Majelis taklim Ar Mar'atush Sholihah kembali mengadakan pengajian rutin bulanan pada Ahad pagi, tanggal 17 November 2019.

Pengajian kali ini  bertempat di sebuah Kedai, di pinggiran kota Bondowoso yang mengusung konsep natural dengan dominasi material bambu. Suasana begitu sejuk dan tenang menambah kekhusyukkan puluhan peserta yang mengikuti rangkaian acara.

Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al Quran surat Muhammad ayat 21 yang dibawakan dengan syahdu oleh Ustadzah Mahmudah. Seperti biasa acara dipandu oleh Ustadzah Jamila dan panitia kali ini mengundang Ustadzah Kurnia Yulie sebagai pemateri. Tema yang diusung kali ini bertajuk "Thaif: Duka Sedalam Cinta". 

Ustadzah Kurnia Yulie banyak bercerita tentang kisah perjuangan dakwah Rasulullah saw yang tak mengenal lelah dalam mengemban dakwah islam. Berjuang dengan segala apa yang dimilikinya untuk menyampaikan pesan-pesan ilahiyah kepada umat manusia yang pada saat itu kehidupan masyarakat berada dalam kerusakan. Betapa banyak rintangan yang dialami oleh Rasulullah dalam berdakwah mengajak manusia kepada tauhid. Namun manusia berhati nan mulia itu tetap berpegang teguh pada agamaNya karena jalan dakwah ini jauh lebih berharga daripada yang ditawarkan dunia.

Rasulullah saw mengawali dakwahnya dengan rahasia (sirriyyah). Kota Makkah merupakan pusat agama bangsa Arab. Di sana terdapat para pengabdi Ka’bah dan pengurus berhala serta patung-patung yang disakralkan oleh seluruh bangsa Arab. Maka, memulai dakwah secara rahasia merupakan suatu hal yang bijaksana. Rasulullah saw pertama kali menawarkan Islam kepada orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan beliau, yaitu kepada keluarga serta sahabat-sahabat karib beliau. 

Yang pertama kali menyatakan keimanannya adalah istri Nabi, Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid, disusul oleh mantan budak beliau Zaid bin Harits bin Syarahbil Al Kalbi, sepupu beliau Ali bin Abi Thalib yang ketika itu masih kanak-kanak dan hidup dalam asuhan beliau, serta sahabat karib beliau Abu Bakar Ash Shiddiq. Mereka semua memeluk Islam di hari pertama dakwah. Dalam sejarah Islam, mereka dikenal sebagai As Sabiqun Al Awwalun (orang-orang yang paling dahulu dan pertama masuk Islam).

Dakwah secara terang-terangan dimulai sejak tahun ke-4 kenabian setelah turunnya wahyu yang berisi perintah Allah SWT agar dakwah itu dilaksanakan secara terang-terangan baik kepada penduduk kota Mekkah maupun penduduk luar kota Mekkah. Diantara orang-orang yang masuk Islam di luar Mekah antara lain Abu Zar Al-Giffari dan Tufail bin Amr Ad-Dausi. Sedangkan dari kalangan orang kafir yang masuk Islam ialah Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khattab. 

Tidak semuanya dapat menerima dan mempercayai yang disampaikan oleh Rasulullah, melainkan hanya beberapa kalangan saja. Banyak kalangan yang menolak dan menentang dengan hadirnya ajaran Islam ini, salah satunya adalah kaum Quraisy. Mereka merintangi dakwah Rasullulah dengan berbagai cara, mulai dari menghembus-hembuskan fitnah, mereka mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw dikatakan seorang kāhin (dukun), penyihir, disihir, orang gila, dan julukan-julukan lainnya hingga siksaan fisik diluar batas perikemanusiaan  yang harus dihadapi oleh Rasulullah dan para sahabat.
Dalam menghadapi tantangan dari kaum kafir Quraisy, Rasulullah kemudian memerintahkan 16 orang sahabatnya untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), karena Raja Negus di negeri itu memberikan jaminan keamanan. Peristiwa hijrah yang pertama ke Habasyah ini terjadi pada tahun 615 M.

Pada tahun ke-10 dari kenabian yaitu pada tahun 619 M, Rasulullah saw harus menghadapi kedukaan yang luar biasa yaitu wafatnya  Abu Thalib, paman Rasulullah saw. Disusul dengan wafatnya istri beliau yang sangat dicintainya, Khadijah ra. Keduanya adalah penyokong dan pelindung dakwah Rasulullah saw yang utama. Dalam sejarah Islam tahun wafatnya Abu Thalib dan Khadijah disebut ‘amul huzni (tahun duka cita). 

Setelah wafatnya Khadijah ra dan Abu Thalib, tekanan kaum musyrikin kepada Rasulullah saw semakin meningkat. Dakwah di tengah masyarakat Quraisy sangat sulit dilakukan. Maka Rasulullah saw berpikir untuk mencari daerah dakwah yang lain, dengan harapan dapat ditemukan hati yang membuka diri untuk beriman dan mendukung agama Allah ini. Rasulullah saw kemudian berangkat ke Thaif  bersama Zaid bin Haritsah. Dengan harapan Bani Tsaqif akan menerima agama Islam dengan baik dan mendapatkan penolong dakwah dari suku Tsaqif.

Ketika tiba di Thaif, Rasulullah saw segera menemui tiga bersaudara pemimpin dan bangsawan Thaif yakni: Abdu Yalil bin Amr bin Umair, Mas’ud bin Amr bin Umair, dan Habib bin Amr bin Umair. Beliau mengajak mereka agar menyembah kepada Allah Ta’ala dan bersedia membela Islam dari rongrongan orang-orang yang menentangnya. Namun ketiganya menolak tawaran beliau itu dengan penolakan yang begitu buruk dan sangat menyakitkan hati Rasulullah sawi. Tidak terlihat sedikitpun kebaikan dari mereka. Ketika itulah Rasulullah saw meminta mereka untuk tidak menyebarluaskan hal ini, agar orang Quraisy tidak semakin memperberat tekanannya kepada beliau dan pengikutnya karena menganggapnya telah meminta bantuan kepada musuh mereka. 

Tetapi tiga bersaudara Bani Tsaqif tidak menerima permintaan ini. Bahkan mereka mengerahkan para budak dan anak-anak kecil mereka untuk mengusir Nabi saw di tengah terik matahari. Melemparinya dengan batu sehingga kedua kaki beliau berlumuran darah. Zaid bin Haritsah  berusaha menghalau batu-batu itu. Kemudian keduanya berlindung di kebun milik Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah sampai anak-anak kecil itu kembali ke Thaif. Rasulullah saw kemudian menuju ke bawah pohon kurma dan duduk di sana. Utbah dan Syaibah bin Rabiah melihat beliau dan menyaksikan perlakuan anak-anak kecil Thaif itu.

Dalam keadaan sulit seperti itu Rasulullah saw mengangkat kedua tangannya ke langit dan melantunkan doa yang begitu menyayat hati

“اللّهُمّ إلَيْك أَشْكُو ضَعْفَ قُوّتِي ، وَقِلّةَ حِيلَتِي ، وَهَوَانِي عَلَى النّاسِ، يَا أَرْحَمَ الرّاحِمِينَ ! أَنْتَ رَبّ الْمُسْتَضْعَفِينَ وَأَنْتَ رَبّي ، إلَى مَنْ تَكِلُنِي ؟ إلَى بَعِيدٍ يَتَجَهّمُنِي ؟ أَمْ إلَى عَدُوّ مَلّكْتَهُ أَمْرِي ؟ إنْ لَمْ يَكُنْ بِك عَلَيّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي ، وَلَكِنّ عَافِيَتَك هِيَ أَوْسَعُ لِي ، أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِك الّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظّلُمَاتُ وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ أَنْ تُنْزِلَ بِي غَضَبَك ، أَوْ يَحِلّ عَلَيّ سُخْطُكَ، لَك الْعُتْبَى حَتّى تَرْضَى ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوّةَ إلّا بِك”

“Ya Allah kepadamu kuadukan lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya kesanggupanku, kerendahan diriku berhadapan dengan manusia, wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang! Engkau adalah Pelindung orang-orang yang lemah dan Engkau juga Pelindungku, kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku? Ataukah kepada musuh yang akan menguasai urusanku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, semuanya itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku.

Aku berlindung pada sinar wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat, dari murka-Mu yang hendak Engkau tumpahkan kepadaku. Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau Ridha (kepadaku), dan tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.” (HR. At-Thabrani / Lihat: Sirah Ibnu Hisyam 1/420). Melihat hal tersebut Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah tergerak hatinya melihat kesedihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka kemudian menyiapkan setangkai kurma, dan menyuruh budaknya yang bernama Adas yang beragama Nasrani. Adas kemudiaan memeluk islam setelah Rasulullah membacakan kepadanya ayat Al Qur’an yang berisi kisah Nabi Yunus as. 

Kemudian saat Rasulullah saw bersama Zaid bin Haritsah hendak melanjutkan perjalanannya kembali ke Makkah, tiba-tiba di tengah jalan datanglah malaikat Jibril dengan diiringkan malaikat penjaga gunung. Menawarkan kepada Rasulullah saw untuk menimpakan azab kepada Bani Tsaqif atas perlakuan buruk yang telah mereka lakukan. Malaikat penjaga gunung berkata kepada beliau “Ya Rasulullah ! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu, dan aku inilah Malaikat penjaga gunung. Sesungguhnya Tuhanmu telah mengutusku untuk datang kepadamu, supaya engkau perintahkan kepadaku tentang urusanmu, apa yang kau kehendaki? Jika engkau mau supaya aku menghimpitkan kedua gunung yang besar ini kepada mereka, tentu kukerjakan.” 

Namun Rasulullah saw menolak dan menjawab “Tidak! Bahkan saya mengharap, mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari keturunan mereka itu orang yang menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun”. Kemudian beliau berdo’a, “Ya Allah! Tunjukkanlah kaumku (ke jalan yang lurus), karena sesungguhnya mereka itu tidak mengerti”. Begitu mulia dan agung akhlak Rasulullah saw. Disaat beliau mampu membalas perlakuan buruk dari kaumnya, namun beliau justru memberikan maaf dan mendoakan mereka dengan kebaikan. Demikian ini selaras dengan beberapa sifat beliau yang diceritakan dalam al-Qur’ân, seperti sifat lemah lembut, kasih sayang, dan sangat menginginkan kebaikan bagi umatnya. 

BACA JUGA:

Dalam kisah perjalanan Rasulullah saw ke Thaif dan penderitaan yang beliau tanggung tersimpan pelajaran yang sangat berharga bagi para pengemban dakwah. Para pengemban dakwah tentunya akan mengalami berbagai rintangan dan ujian dalam menegakkan agama Allah. Oleh karena itu, para pengemban dakwah wajib mempersiapkan diri, karena dakwah merupakan jalan para nabi dan orang-orang shalih. Pastilah syaiton laknatullah dan pengikutnya tidak akan tinggal diam, mereka akan berusaha dengan segala cara untuk menggagalkan manusia dari jalan kebenaran. Fakta bahwa agama ini tidak akan dimenangkan kecuali dengan amalan dan usaha keras oleh para pengembannya dengan berbekal taqwa dan tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla harus tertancap kuat di benak para pengemban dakwah.

Para peserta pengajian tampak serius dan fokus mengikuti setiap tahapan acara terlebih lagi saat menyimak pemaparan pemateri. Sebagai penutup, doa dipanjatkan oleh Ustadzah Maria dengan penuh keharuan sehingga tak terbendung air mata mengalir. Semoga Allah swt tetap meneguhkan hati kita untuk tetap teguh memegang tali agamaNya, meskipun cobaan dan kesulitan menggoyahkan  hati, mengganggu pikiran dan melemahkan jiwa. Seorang hamba yang beriman akan tetap memiliki harapan yang baik meskipun harapan tersebut terasa jauh. Karena  dia yakin akan pertolongan Rabbnya dan tertancap kuat di benaknya bahwa kehidupan akhirat yang dijanjikan oleh Allah Azza wa Jalla jauh lebih baik dari apa yang ditawarkan oleh dunia. Aamiin Ya Robbal Alamiin.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations