Oleh: Siti Rima Sarinah
Belum selesai polemik film The Santri yang banyak menuai kontroversi di masyarakat yang sarat dengan makna liberalisasi dan toleransi yang di gambarkan dalam film ini.

Baru -baru muncul kembali film yang di angkat dari novel terlaris karya penulis muda Faradita. Novel yang saat ini sudah terjual hampir 13.000 eksemplar dan sudah 4 kali di cetak ulang. Film SIN yang di sutradarai oleh Herwin Novianto menggambarkan drama romantis sepasang remaja yang berpacaran dengan saudara kandungnya sendiri (inses). Film ini pun sama seperti film The Santri yang sarat akan makna dan pesan yaitu liberalisme (kebebasan).

Film merupakan salah satu sarana untuk membangun opini terhadap “sesuatu” agar bisa diterima oleh masyarakat dengan mengambil cara pandang yang lain. Perilaku yang menyimpang  (inses) akan mengakibatkan kerusakan masyarakat terutama generasi. Kasus inses antara ibu dan anak lelakinya dan membunuh anak perempuannya terjadi di Sukabumi sebagai contohnya. Karena film -film tersebut telah menjadi inspirasi bagi  generasi untuk melakukan hal yang menyimpang.

Perilaku yang menyimpang di anggap sebagai hal yang wajar atas nama kebebasan yang berasal dari budaya barat dan menjadi kiblat bagi generasi saat ini.  Kebebasan yang di kampanyekan oleh ideologi demokrasi sekuler hanya akan melahirkan dekadensi moral generasi. Rasa malu, harga diri dan kesucian sudah tidak ada nilainya lagi,

Propaganda berbagai macam kemaksiatan dilakukan oleh para pengusaha intertainment melalui film, televisi, majalah, tabloid dan lain-lain untuk menjajakan pornografi dan pornoaksi sebagai pemicu seks bebas, seks menyimpang, lokalisasi prostitusi bahkan komunitas LGBT mendapatkan pengakuan. 

Hal tersebut mereka lakukan agar kemaksiatan menjadi life style barubagi generasi muslim, dan menggiring generasi sesuai dengan pembentukan masyarakat ideal sesuai dengan persepsi mereka. Yang akan menghantarkan generasi pada kehancuran dan kerusakan moral seperti yang dialami oleh generasi barat.

BACA JUGA:

Harus ada upaya untuk menyelamatkan generasi muslim agar tidak terus menerus terseret arus gelombang kehancuran akibat paham liberal yang di paksakan oleh barat ke negeri-negeri muslim. Islam sebagai agama dan ideologi mempunyai aturan yang komprehensif untuk menjaga generasi dari berbagai kerusakan dengan 3 pilarnya.

Pertama ketakwaan individu, perlu peran orang tua untuk memahamkan dan menanamkan Aqidah Islam sejak dini pada generasi, sehingga melahirkan generasi yang takut pada Allah serta yang menjadi tolak ukur perbuatannya sesuai dengan syariat Allah.

Kedua kontrol masyarakat. Masyarakat harus memiliki kepekaan terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar. Berani melakukan amar ma’ruf  nahi mungkar jika melihat kemaksiatan terjadi. Karena hal itu menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang muslim.

Dan ketiga peran negara. Negara merupakan institusi terpenting untuk menjaga generasi. Peran individu dan masyarakat tidak akan maksimal jika tidak ditopang oleh peran negara. Negara harus mengembalikan peran media sebagai media informasi, pendidikan dan kontrolsosial. Serta sebagai pembentuk aspek intelektual, watak, moral dan kemajuan serta kekuatan umat. Negara akan memberikan sanksi tegas kepada siapa saja yangmenghadirkan tayangan-tayangan yang akan merusak moral .

Mekanisme penjagaan generasi di atas hanya bisa dilakukan oleh sistem Islam (Khilafah) , yang menerapkan hukum syariat Allah secara sempurna. Karena sejarah telah membuktikan selama 1300 tahun mampu melahirkan generasi-generasi  hebat  yaitu umat terbaik ( khoiru ummah). Sudah saatnya kita ganti sistem demokrasi liberal yang akan membawa generasi pada kehancuran, kerusakan dan kebinasaan dengan memperjuangkan syariah khilafah yang akan segera tegak insya Allah. Wallahu a’lam bis shawab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations