Oleh: Ainul Mizan
Dunia hari ini terasa begitu sangat kejam. Manusia harus berlaku layaknya pemangsa bagi manusia lainnya. Homo homini lupus.

Betapa tidak. Di tengah kehidupan yang serba materialistik saat ini, manusia sangat individualis. Sudah nggak peduli dengan kanan dan kirinya. Yang penting dirinya bahagia dan bisa bersenang-senang bergelimang kemewahan. Masa bodoh dengan penderitaan orang lain.

Adalah sebuah keluarga sederhana yang kemudian menjadi korban kebrutalan hidup yang penuh keegoisan dan bulliyan. 

Siang itu terasa panas terik sekali. Kilauan fatamorgana air yang membayang di jalan raya menjanjikan kesegaran yang nyatanya hanya semu. 

Pak Anto memarkir motornya di halaman kontrakannya. Terlihat bekas ketegangan usai bergelut dalam lumpur dunia.

"Ini Pak, air putihnya..." sang istri memberikan segelas air putih pada Pak Anto.

"Terima kasih Bu," balas pak Anto. 

Tak berapa lama setelah itu, Pak Anto sudah menghabiskan segelas air putih yang diberikan istrinya. 

"sekarang silahkan ibu bercerita", Pak Anto mempersilahkan istrinya bercerita.

"Ayah tau nggak tetangga kita, Bu Marni?", sang istri berusaha agar suaminya antusias mendengar ceritanya. 

"Emang kenapa?", kata Pak Anto. 

"Itu suaminya Bu Marni hanya bekerja sebagai pemulung saja bisa ngajak istrinya belanja perhiasan di toko",jelas istrinya. 

"Apa ibu menyuruh ayah jadi pemulung juga?", kata Pak Anto.

"Aduh, bukan yah, begini lho, bapak di kantor kan sebagai kepala pemasaran?", sang istri mulai merasa jengkel.

"Mbok ya, masa bapak sebagai kepala pemasaran nggak bisa merakayasa pengeluaran untuk produksi?" timpal sang istri membarikan saran.

tapi itu kan berkhianat ke Perusahaan" timpal pak Anto nggak mau kalah. 

"nggak pa pak, ini adalah kesempatan bapak, terus kapan lagi kita bisa kaya? Ibu sudah capek hidup miskin terus", pungkas sang istri. 

Pak Anto itu karyawan yang jujur dan pekerja keras. Penilaian baik dari teman - teman sekantornya.

"Apakah aku akan mencoreng penilaian baik orang - orang? Aku sejak awal di perusahaan  menjadi panutan kedisiplinan di kantor ini", Pak Anto melamun sendiri. 

Tanpa disangka, mereka tentunya akan sock. Pak Anto yang dianggap baik, justru sekarang berubah menjadi penilep keuangan perusahaan.



YOUR REACTION?

Facebook Conversations