Ada sebuah ungkapan: Kenalilah kebenaran, maka engkau akan mengenali hakikat seseorang. Ketika kebenaran menjadi timbangan, niscaya kita lebih tenang dan tidak nggumunan.

Kita bisa bersikap proporsional ketika melihat seorang tokoh yang notabene konon pernah nyantri, atau berasal dari keluarga santri, bahkan keturunan kiai, mengatakan sesuatu yang berseberangan dengan petunjuk Nabi.

Nasab mungkin penting. Tapi bukan segalanya. Meskipun anak seorang nabi, tapi ketika mengingkari perintah Allah, maka Allah tetap mengadzabnya. Jangan lupakan kisah Nabi Nuh 'alaihis salam dan putranya. Sedangkan kepada Nabi saja begitu, apalagi kepada manusia biasa. Kita muliakan orang yang memuliakan Allah dan Rasul-Nya. Kita tinggalkan mereka yang menjadikan syariat Allah bahan candaan bahkan mengingkarinya. Meskipun ia keturunan orang mulia. 

Kebenaran seperti apa yang dapat menjadi timbangan? Sebab, tiap orang bisa saja mengklaim sebagai agen kebenaran. 

Mari kita perhatikan petunjuk Allah Ta'ala dalam QS. Al Baqarah ayat 147 berikut. "Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu." Imam Thabari menjelaskan dalam tafsir beliau, mengutip perkataan Abu Ja'far: "Allah Ta'ala mengingatkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: {Ketahuilah Muhammad, kebenaran itu adalah apa yang Rabbmu ajarkan padamu, dan apa yang diberikan padamu dari sisi-Nya. Bukan apa yang orang Yahudi dan Nasrani katakan padamu.} (http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura2-aya147.html)

Di zaman penuh fitnah seperti sekarang ini, kita butuh timbangan yang pasti agar tidak mudah diombang-ambing opini. Untuk orang awam seperti kita, yang lebih banyak mengikuti fatwa daripada menelaah sendiri, penting mengetahui karakteristik ulama yang masih istiqamah di atas kebenaran. 

Imam Syafi'i rahimahullah pernah ditanya: Bagaimana cara mengenali pengikut kebenaran di zaman yang penuh fitnah? Kata beliau: "Ikutilah ke mana arah panah musuh, ia akan menuntunmu pada mereka (para pengikut kebenaran)." (https://ar.islamway.net/article/46239/). Wallahu a'lam. 

YOUR REACTION?

Facebook Conversations