Oleh: Ramli Lahaping

Setelah kembali beradu pendapat perihal penghidupan dengan istrinya, Maman yang sedari tadi asyik mengisap rokok, kemudian berseru, “Dani, bangun! Sudah pagi! Jangan malas-malasan!”

Mendengar titah ayahnya, Dani yang tengah libur sekolah sebagai anak kelas III SD, akhirnya memaksa diri untuk terjaga dan bangkit dari kasurnya.

“Cepat, pindahkan sapi ke seberang sungai!” seru Maman lagi.

Dengan perasaan malas, Dani pun berdiri. Ia lantas berjalan ke teras depan rumah untuk menemui ayahnya. “Tetapi aku belum pintar menyimpul ikatan tali sapi, Ayah. Aku takut sapinya lepas,” keluhnya kemudian.

Maman seketika menolehi anaknya dengan tatapan kesal. “Makanya, belajar! Kau tidak akan pintar kalau tidak belajar!”

Dani pun lekas menuruni rumah panggung mereka untuk melaksanakan perintah. Ia jelas tak tahan melihat ayah atau ibunya marah, sebagaimana yang sering ia saksikan.

Di atas rumah, Maman kembali berperang mulut dengan istrinya.

“Lihat, anak kita pun ogah-ogahan mengurus ternak. Ia tidak akan tahan di sini,” tutur istrinya, dengan nada tinggi. “Apa yang bisa kita harapkan dari kehidupan didesa ini?”

“Jadi bagaimana mau Ibu?” solot Maman. “Apa Ibu mau kita kembali dan bertahan hidup di kota tanpa penghasilan apa-apa? Bisa-bisa kita mati kelaparan kalau begitu.”

“Pokoknya, aku ingin kita pindah ke kota, apa pun yang akan terjadi,” balas istrinya, keras, agar Maman bersepakat untuk menjual sapi dan kebun, lalu hasilnya digunakan untuk membuka usaha pertokoan di kota, sebagaimana yang sudah sering ia usulkan. “Aku sudah tak tahan lagi berada di desa ini.”

“Sudahlah. Aku putuskan, kita tetap akan di sini!” tentang Maman.

“Dasar keras kepala!” ketus istinya, kemudian melengos dan beranjak menuruni rumah.

Akhirnya, tinggallah Maman sendiri. Ia lalu kembali merenung-renungi keinginan istrinya. Tetapi lagi-lagi, ia berkesimpulan bahwa hidup di desa untuk mengelola kebun dan merawat ternak peninggalan orang tuanya, adalah cara terbaik untuk bertahan hidup.

Sudah empat bulan Maman dan keluarga kecilnya tinggal di tanah warisan. Ia terpaksa pulang kampung setelah kehilangan pekerjaan di sebuah perusahaan yang bangkrut. Ia memilih menjadi petani dan peternak di desa ketimbang mempertaruhkan nasib yang tak menentu di kota.

Tetapi bertahun-tahun hidup di kota, rupanya membuat anak dan istri Maman sulit beradaptasi. Keduanya tampak menganggap desa sebagai lingkungan yang keras dan tidak menyenangkan. Mereka jelas lebih menginginkan kehidupan kota dengan segala macam kemudahannya.

Sejujurnya, Maman pun mendambakan kehidupan kota seperti dahulu. Ia ingin kembali bekerja di sebuah kantor dengan pendingin ruangan, sehingga ia tidak perlu menjemur tubuhnya demi uang. Tetapi kenyataan membuatnya tak bisa apa-apa selain menerima nasibnya untuk bertahan hidup sebagai orang desa. Sudah berkali-kali ia berjuang mendapatkan pekerjaan baru di kota, tetapi sebanyak itu pula ia mengalami kegagalan.

Atas kepelikan hidupnya, Maman tak bisa mengambil jalan lain selain menjalani hari-harinya sebagai petani jagung dan penggembala sapi. Paling tidak, ia akan terus melakukan pekerjaan itu sebelum ada informasi dari teman-temannya di kota perihal tawaran pekerjaan yang yang pasti dan menjamin untuk kehidupannya sekeluarga.

Akhirnya, di tengah kekalutan perasaannya, Maman pun kembali bersiap-siap untuk melakoni aktivitasnya. Setelah makan, buang air, dan mempersiapkan peralatannya, ia lalu beranjak ke kebunnya di seberang sungai. Bagaimana pun, ia ingin mendisiplinkan dirinya sebagai petani dan peternak sejati, agar ia menjadi teladan bagi anak dan istrinya.

Beberapa lama kemudian, setelah sampai di ladang penghidupannya, Maman sontak terkejut menyaksikan sebagian tanaman jagungnya yang masih setengah umur, lenyap dan tumbang dimangsa seekor sapi miliknya sendiri. Ia sungguh merasa terpukul membayangkan bahwa usaha pertaniannya yang pertama kali itu, akan mengalami kegagalan di masa panen.

Dengan langkah sigap, Maman kemudian menyeret dan mengikat seekor sapinya itu pada sebuah pohon di pinggir sungai. Setelah memastikan kedua sapinya benar-benar terikat dengan baik, ia pun lekas mencari-cari keberadaan anaknya. Berselang sejenak, ia lantas menemukan sarung dan sandal sang anak tergeletak di tepi sungai. Namun setelah melayangkan pandangan, ia tak juga melihat keberadaan sang anak. Pun, setelah memeriksa rumah kebunnya, ia tak juga mendapatkan anaknya itu.

Akhirnya, Maman memutuskan untuk menunggu saja, sembari memendam amarahnya. Ia lantas membenahi pohon jagungnya yang rebah, kemudian membersihkan rerumputan di sekitar pohon jagungnya yang masih tegak. Ia sungguh berharap tanaman-tanaman tersebut tetap selamat dan menghasilkan buah yang cukup, walau sekadar untuk bahan konsumsinya sekeluarga.

Setelah pekerjaannya selesai, Maman lalu beristirahat di atas rumah panggung kebunnya, sembari menanti kedatangan anaknya untuk menerima hukuman darinya. Tetapi sekian lama menunggu, sang anak tak juga datang. Hingga akhirnya, karena perasaan lelah atas tubuhnya yang belum kerasan sebagai petani, ia lantas pulang sambil membawa sarung dan sandal anaknya.

Pada sisi yang lain, Dani yang sedari tadi dicari-cari ayahnya, mulai beranjak kehulu sungai setelah sekian jauh ia menjelajah ke arah hilir untuk mencari ikan dan udang. Ia dan dua orang temannya yang lebih tua, menarget ikan dan udang dengan senjata rakitan, hingga mereka berhasil mendapatkan beberapa ekor. Ia pun kebagian seekor ikan dan lima ekor udang yang akan ia bawa pulang sebagai oleh-oleh untuk ayah dan ibunya.

Sesaat kemudian, setelah sampai di titik berangkatnya, Dani pun terkejut ketika menyaksikan sarung dan sandalnya telah lenyap. Ia lantas mondar-mandir demi menemukan benda-benda tersebut. Tetapi sekian lama, ia tak juga berhasil. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk pulang dengan kesedian diri untuk mendapatkan marah dari ayah dan ibunya.

Tetapi sejenak berselang, setelah ia berada di dekat kebun ayahnya, ia pun menemukan keadaan yang tak kalah mengejutkannya. Ia menyaksikan sebagian tanaman jagung ayahnya porak-poranda, dan ia pun melihat jejak kaki dan tahi sapi di sekitarnya. Seketika pula, ia jadi sangat takut untuk pulang dan mendulang hukuman yang sungguh menakutkan baginya.

Dengan perasaan yang kacau, Dani akhirnya menunda kepulangannya. Ia lantas duduk saja di bawah kolong rumah panggung kebun ayahnya, entah sampai kapan.

Berselang beberapa saat, tiba-tiba, angin bertiup kencang, dan langit menjadi mendung. Seketika pula, hujan deras turun. Akhirnya, Dani memutuskan untuk naik ke atas rumah kebun, kemudian berbaring sembari memikir-mikirkan nasibnya di hadapan kedua orang tuanya.

Pada sisi lain, di seberang sungai, Maman dan istinya kembali beradu mulut.

“Apa Bapak hanya akan duduk-duduk di sini dan tak berniat mencari keberadaan anak kita?” tanya istrinya, dengan nada kesal.

Maman tak membalas. Tetapi diam-diam, ia pun mengkhawatirkan keadaan anaknya. Apalagi, hujan makin deras, sedang sebelumnya, ia telah menemukan bukti bahwa anaknya sedang bermain-main di area sungai. Karena itu, ia sangat takut kalau-kalau banjir besar datang dan mencelakakan sang anak.

“Hai, apa Bapak tidak takut kalau terjadi apa-apa dengan anak kita?” sergah istrinya lagi. “Ingat, kepindahan kita ke sini, atas keputusan Bapak. Karena itu, Bapak harus bertanggung jawab atas keselamatan anak kita di sini.”

“Iya…,” balas Maman, setengah kesal, dengan kecemasan yang makin menjadi-jadi. “Aku akan mencarinya.”

Tanpa menunda waktu, Maman segera beranjak dengan langkah cepat. Ia lantas menyusuri tepi sungai, ke arah hilir, sembari menyahut-nyahuti nama sang anak. Tetapi sekian lama dan sekian jauh mencari, sang anak tak juga menampakkan dirinya. Tak pelak, ia pun makin khawatir, apalagi setelah ia menyaksikan langit yang gelap di sisi hulu, dan air sungai mulai tampak keruh.

Di tengah kerisauannya, Maman kemudian memutuskan untuk menuju ke rumah kebunnya dengan penuh penarasan. Ia berharap semoga anaknya berada di rumah panggung itu dalam keadaan baik-baik saja. Dan jika keajaiban itu terjadi, ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan seturut dengan istrinya; bahwa ia akan menjual kebun dan ternaknya untuk kembali memulai dan membangun kehidupan keluarganya dikota.

Setelah langkah demi langkah yang menegangkan, Maman pun tiba di depan rumah kebunnya. Tanpa menunda waktu, ia lantas naik dan masuk ke rumah itu. Hingga akhirnya, ia menyaksikan anaknya tengah berbaring, yang kemudian terjaga atas kedatangannya.

Sontak, Dani menangis ketakutan menyaksikan kehadiran ayahnya.

Seketika pula, Maman memeluk anaknya dengan penuh kesyukuran, sedang Dani membalas pelukan ayahnya itu dengan penuh tanda tanya.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations