Oleh: Maman El Hakiem

Pecahan gelas itu masih berserakan. Serpihannya sangat tajam. Sangat hati hati membersihkannya. Begitu tersentuh, kulit tangan bisa terlukai.

Seraut wajah yang tampak mulai keriput, mencoba  menyapunya. Di bola matanya tampak basah, air mata menyesal. Air yang hendak diminumnya tumpah tanpa sengaja. “Kalau anakku tahu, pasti ia marah!” Gumamnya dalam hati.

Rumah mewah di ujung gang kampung itu, segala perabotannya sangat mahal. Seorang wanita usia senja tinggal di dalamnya. Ia menempati kamar belakang dibatasi dinding yang langsung menuju toilet. Segala yang ada di rumah tersebut tidak membuatnya nyaman. Saat siang hari, wanita itu hanya berteman televisi dan seorang pembantu rumah tangga. 

“Bu, biar saya saja yang membersihkan beling-beling itu.” Kata seseorang menghampirinya. Rupanya suara gelas yang jatuh terdengar oleh Inah, pembantu rumah tangga di rumah tersebut.

“Gak apa-apa. Nah, ini biar saya saja, asal jangan bilang sama anak saya, jika ada gelas yang pecah.” Jawabnya sambil tetap menyapunya.

Bi Inah, segera memakluminya, ia teringat pada suatu waktu. Saat majikannya pergi liburan, ia ditinggal sendiri. Begitu tahu ada vas bunga yang pecah tidak sengaja. Majikannya marah-marah pada wanita tersebut, padahal itu adalah ibunya sendiri. Seorang ibu yang harus dijaganya siang dan malam. Dengan alasan segalanya telah tercukupi. Tersedia asisten rumah tangga, tinggal di rumah mewah dengan segala fasilitas serba ada. Mungkin dalam pikiran sang anak, itulah cara membahagiakan orang tua sebagai tanda balas budi. Tinggal hanya ditemani pembantu dengan segala larangan. “Tidak boleh pergi keluar rumah,sekalipun berkunjung ke tetangga, makan dan minum disiapkan, minum dengan gelas plastik, karena jika gelas pecah mahal harganya.”

Setelah menyapu lantai dari pecahan gelas, Bi Inah menghampirinya dan ibu majikan tampak tersenyum. Ia mulai bercerita. Kebahagiaan bagi seorang ibu sederhana. Melihat anak-anaknya bahagia. Sekalipun ia hidup terpenjara di rumahnya yang mewah. Tetapi, jauh di relung hatinya ia teringat puluhan tahun ke belakang saat anak-anaknya masih dalam kandungan.

Tiga bulan pertama, kebahagiaan seorang wanita adalah diberikan amanah untuk mampu mengandung seorang anak di rahimnya. Rahim adalah kata yang bermakna “ruhama” yaitu tempat yang didalamnya terdapat curahan kasih sayang. Perasaan tidak menentu saat mengandung, terobati dengan segala harapan akan lahirnya anak-anak yang kelak melanjutkan kehidupannya. Manusia adalah makhluk yang memiliki naluri untuk bertahan hidup dan melanjutkan keturunan. Karena itu tujuan dari pernikahan tidak lain melahirkan generasi yang lebih baik dan meneruskan mengemban amanah agamanya. Karena itulah dakwah menyebar salah satunya dengan menghubungkan tali silaturahim melalui pernikahan.

Tiga bulan kedua, setelah ruh ditiupkan, maka seorang ibu telah menjadi guru pertama yang mengajarkan ilmu pada anaknya. Kesabaran seorang ibu dan perilaku ketaatannya pada Allah SWT selalu terekam janin dalam rahim. Karena tubuh seorang ibu adalah pelindung saat siang dan malam. Saat terjaga atau terlelap tidur. Setiap gerak ibu membersamainya, sehingga wajar naluri seorang ibu sangat peka terhadap apa yang dirasakan anaknya.

Tiga bulan terakhir, adalah detik detik yang mendebarkan. Perasaan gelisah tidak menentu, saat menjelang kelahiran. Perjuangan hidup dan mati harus dihadapi seorang ibu. Siang dan malam serasa lama ketika bayi yang dikandungnya belum lahir. Maka, kunci ketenangan itu hadir saat suaminya bisa menemani menyaksikan bagaimana anak lahir ke dunia. Buah cinta dan kasih sayang yang dibangun dalam kehidupan rumah tangga adalah tanggungjawab berat saat diberikan amanah berupa anak. Karena anak dititipkan Allah SWT yang semula suci bersih secara fitrah, bisa hitam legam di kemudian hari ketika akidahnya tergadaikan. Ketika syariat agama dilalaikan. Ketika dunia dijadikan tujuan, bukan tempat persinggahan.

“Aduhh!” Ibu tampak meringis.

“ Kenapa, bu?’ Tanya Bi Inah,melihat ibu yang kesakitan.

 “Jari ibu mengeluarkan darah.” Sahutnya.

 Rupanya pecahan beling gelas ada yang mengenai kulitnya. Segera Bi Inah mencarikan obat anti septic yang berada di kotak obat obatan. Namun, karena berada di ruangan depan, agak lama mengambilnya.

Sekembalinya, mata Bi Inah yang semula berbinar menjadi  berkaca-kaca saat dilihatnya wanita yang sebentar ditinggalnya, terkulai lemas. Tubuhnya bersandar pada dipan tempat tidurnya. Matanya mulai meredup. Dengan penuh kecemasan, tangan Bi Inah meraba dahi wanita yang selama ini selalu dijaganya. Ada basah keringat yang mulai dingin, di saat itulah lirikan matanya menatap ke atas lalu melirik dirinya. “Titip anakku, Bi Inah.....sepulangnya dari tempat kerja, jangan bilang jika ada gelasnya yang pecah.” Lalu, ucapan Laillaha Illa Allah terdengar lirih terakhir kali dari bibirnya.*

YOUR REACTION?

Facebook Conversations