Gerobak tua tersebut adalah harta satu-satunya peninggalan sang suami yang berprofesi sebagai pemulung. Malangnya, kini sang ibu harus sendirian berjuang keras untuk menghidupi dua anaknya yang selalu dibawa kemanapun ia pergi.

Oleh: Eviyanti, Pendidik Generasi dan Member Akademi Menulis Kreatif

Pada suatu hari ketika Randi sedang makan di salah satu tenda warung makan, dia bertemu dengan seorang ibu. Ibu itu melintas di depan Randi dengan gerobak yang di dorongnya. 

Randi adalah anak dari keluarga berada, dia orang yang sangat menyayangi ibunya. Anak yang sopan, ramah, tetapi tidak sombong dengan kekayaan yang dimiliki keluarganya. Dia merasa harta yang ada sekarang itu hanya titipan dari Allah Swt, dan merupakan ujian bagi dia dan keluarganya.

Ketika melihat ibu tadi, Randi teringat akan ibunya. Lalu tanpa ragu Randi memanggil sang ibu. Sesaat kemudian, walaupun pada awalnya ibu itu terlihat bingung, Randi berhasil membuat ia menghampirinya. Tanpa pikir panjang, Randi langsung memesankan nasi uduk tiga bungkus untuk ibu dan kedua anaknya yang tertidur pulas di dalam gerobak tersebut. Raut wajahnya menunjukkan kegembiraan yang luar biasa dan berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Randi.

Randi mengajak ibu itu dan kedua anaknya untuk duduk dan makan nasi uduk yang telah dipesannya tadi. Kemudian Randi bertanya kepada ibu itu,

“Apakah ibu sedang bekerja? Lalu kenapa membawa anak-anak ibu yang masih kecil-kecil ini untuk bekerja?” tanya Randi sedikit keheranan.

Dengan wajah cokelat yang tersirat kelelahan tetapi terlihat ramah, sang ibu menceritakan tentang suaminya yang telah meninggal, karena sakit yang berkepanjangan yang tidak bisa disembuhkan karena mereka tidak mempunyai biaya untuk berobat ke dokter.

“Suami ibu telah meninggal nak, beliau sakit tapi kami tidak mempunyai biaya untuk membawanya berobat ke dokter. Waktu itu ada petugas dari Puskesmas untuk menyarankan memakai BPJS, tapi nak kami keluarga miskin yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung. Mana bisa untuk mengikuti program BPJS, sehari saja kami mendapat uang kami sudah bersyukur, walaupun uangnya hanya cukup untuk membeli beras satu liter. Terkadang kalau kami tidak punya uang sama sekali, terpaksa kami tidak makan, kami puasa nak,” cerita sang ibu dengan suara yang terbata-bata menahan sesak air mata yang tidak bisa lagi dia bendung.



YOUR REACTION?

Facebook Conversations