Lupakan tentang ustadz Hafidz yang telah menjengukku. Penting bagiku untuk memulai dan menata hidup, agar tidak jalan ditempat. Tentunya aku punya cita-cita yang sepantasnya aku raih.

Fokus, itu yang aku lakukan untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Kupilih kegiatan mana yang paling asik dan menyenangkan untukku. Darah seni rupanya mengalir deras dalam tubuhku. Jangan lupakan kalau aku mantan penyanyi dengan suara yang indah dan merdu. Kini dunia tarik suara itu tidak pernah lagi aku sentuh, dengan ilmu agama yang telah kupelajari. Penting bagiku untuk benar-benar memilah mana yang boleh dan mana yang tidak.

Seni lukis menjadi pilihanku, dengan kreatifitas yang aku punya, aku melukis dengan bahan baku kain perca. Sedikit ribet memang, aku harus menggunting kain perca dengan berbagai ukuran, sesuai tema lukis yang akan kubuat. 

Allah memang sebaik-baiknya pemberi rejeki. Tanpa aku duga lukisan aku banyak disukai. Bahkan beberapa lukisan dibawa ibu Yeni pemilik SALFANA butik, untuk dijual kepada para koleganya. Sama sekali tak pernah aku bayangkan lukisan-lukisan aku laku terjual dengan harga yang mahal. Menurut mereka lukisan yang kubuat mempunyai nilai seni yang tinggi, tingkat kerumitan yang banyak sehingga nilai jualnya pun bagus.

Pada hari Kartini, LAPAS tempat ku bernaung, mengadakan acara "KARYA PESONA WANITA ISTIMEWA"

Ya disitu akan digelar lomba karya busana, rias pengantin, masakan, lukisan dan sebagainya, bahkan beberapa diantara penghuni LAPAS ada yang bisa membuat radio. Semua akan dilombakan sesuai dengan kriteria.

Acara ini sangat meriah, karena ibu mentri peranan wanita datang kesini, belum lagi para pejabat dari kepolisian, dari pemberdayaan perempuan dan lain-lain. 

Kami semua berkumpul untuk menyambut para pejabat tersebut. Beberapa busana telah dipamerkan, makanan telah dihidangkan dan karya-karya hebat sudah diperlihatkan.  Lukisanku di beli Mentri peranan wanita dengan  harga yang tinggi,  hampir semua lukisan aku  terjual.

Aku menjadi artis dadakan pada acara itu, ibu mentri dan para pejabat ingin berkenalan dan bertanya tentang lukisanku. Tentu saja rasa senang sekaligus gugup menjadi satu. 

Fenomenal menurut mereka, dengan gambar bunga, pemandangan gunung, laut sawah atau ranting pohon kering diujung senja yang kemarau, membuat mereka terpesona, tidak terlalu jelas, namun hidup. Ah, aku tersenyum gembira dengan komentar-komentar yang mereka sampaikan. Aku lebih banyak tersipu, dengan pipi semerah tomat karena pujian yang menjulang tinggi. 

Akhirnya dengan bernafas lega aku bisa meninggalkan orang-orang yang merubungiku. 

Ternyata belum bisa bernafas lega, ketika seorang polisi muda tengah memperhatikan aku dengan intens. Gimana rasanya coba, diperhatikan sebegitu rupa. Merinding, malu dan salah tingkah pastinya. Kalau ada lubang aku pasti sembunyi. Tatap matanya seakan bisa melubangi dadaku. Tajam, bagai sedang meneliti, akhirnya aku hanya bisa tertunduk dengan wajah memerah.

Aku tidak menyadari, ketika seseorang duduk di sebelahku dan menyapa ramah.

"Boleh saya duduk disini?"

Kuangkat wajahku, senyum yang manis dengan lesung Pipit, mukanya sangat bersih dan tampan, menambah keindahan wajahnya. Aku terpana menatapnya, hingga dia mengulurkan tangan kearahku.

Dengan gugup kutangkupkan kedua telapak tanganku didepan dada. Dia melakukan hal yang sama.

"Perkenalkan saya Rasya." Katanya sambil mengangguk.

"Viana." 

"Terimakasih sudah mau berkenalan dengan saya."

Kujawab dengan senyuman.

"Boleh saya panggil Via saja."

"Silahkan." Jawabku pelan.

"Gak nyangka ya, ditempat ini ada berlian."  

"Oh, apa." Jawabku gugup."

"Kamu seperti berlian, sangat berkilau."

"Maaf, saya harus menemui Bu Mita." Aku langsung menghindarinya. Gugup, malu, dan takut detak jantung yang tiba-tiba berdebar kencang terdengar olehnya.

"Maafkan kalau saya sudah membuatmu tidak nyaman." Ucapnya cukup keras.

Aku hanya meliriknya sekilas dan menganggukkan kepala.

Wuiiiih apalagi ini, masa aku bisa salah tingkah sama orang yang baru kukenal. Bahaya ini pikirku sambil berlalu.

Bersambung

YOUR REACTION?

Facebook Conversations