Tanpa terasa sudah memasuki tahun ke tiga, aku menjadi penghuni lapas ini. Mbak Maryam belum satu kali pun menengokku.

Namun itu tak membuatku bersedih hati, karena kabar gembira yang diberikannya. Mbak Maryam, sekarang telah dikaruniai seorang anak. Setelah hampir lima tahun perkawinan. Allah baru mempercayai mereka untuk menitipkan buah hati ditengah-tengah keluarganya.  Kehamilan yang sulit menyebabkan mbak Maryam tidak bisa kemana-mana, apalagi menempuh perjalanan yang sulit dan memakan waktu lama, bisa membahayakan kandungannya. 

Aku sangat berbahagia dengan kelahiran putra mbak Maryam. Untuk melepas rindu, Kami cukup sering bertelphonan dan saling berbagi kabar.

Pagi ini aku dikejutkan dengan kedatangan ustadz Hafidz. Aku hampir merasa diabaikan. Sebagai perempuan yang mencintai seseorang. Tentunya aku sangat membutuhkan perhatian dari orang yang dicintainya, hanya sayang takdir berkata lain. Ustadz Hafidz kini telah menjadi milik orang lain. Ingin kubuang rasa dan harapan ini padanya, rindu, sedih dan cemburu menjadi satu. 

Namun  aku tak mampu berbuat apa-apa, dan hati kerap kali berkhianat, dia tidak sejajar dengan logika. Apa yang bisa aku harapkan dari ustadz Hafidz, dia telah menjadi suami Aisyah, dan ayah dari beberapa anaknya. Mana mungkin aku harus merebut kasih sayang dari orang-orang yang lebih berhak mendapatkannya. Aku ini siapa, hanya perempuan yang terlalu banyak berharap untuk mendapatkan cinta dari ustadz Hafidz.

Berkali-kali kubunuh rasa cinta ini, namun hatiku terlalu keras untuk dibantah. Dan  seluruh jiwa ragaku, tetap berharap pada ustadz Hafidz. 

Ditengah rindu yang  putus asa, ustadz Hafidz datang menengokku.  

Aku mengajak Mak Mirna untuk menemaniku bertemu dengan ustadz Hafidz.

Serindu-rindunya aku terhadap ustadz Hafidz, aku tidak mau hanya duduk berdua dengannya,  maka kuajak Mak Mirna untuk menemaniku. 

"Assalamualaikum dik, apa kabarmu?" Ustad hafidz menangkupkan kedua tangannya didepan dada. Kubalas dengan perbuatan yang sama, dan kujawab salamnya dengan lirih dan mata berkaca-kaca.

Ingin rasanya aku menghambur dalam pelukannya. Kutumpahkan tangis cinta dan rindu di dadanya. Namun apa daya. Kami belum sah. Mana boleh aku bersentuhan dengannya. Serindu dan secinta apapun aku padanya. Hanya bisa kupandang dia dengan penuh rasa sayang. 

Ustad hafidz tersenyum hangat, binar kerinduan nampak dikedalaman matanya yang teduh. Setitik air mata hampir jatuh, dan dia segera menghapusnya. 

Suasana syahdu ini tak dapat kami sembunyikan, dihadapan Mak Mirna, yang tersenyum maklum, aku memperkenalkannya pada ustadz Hafidz. Senyum ustadz Hafidz terkembang, melihat aku telah mempunyai sahabat disini.

"Dik, mas minta maaf baru bisa menengoknya setelah tiga tahun ini. Mas sedang sibuk mendirikan madrasah di desa kita, dan mencari guru-guru untuk bisa mengajar disana. Tapi mas selalu ingat padamu. Mas tidak lupa, dan ah ya, gimana kabarnya sekarang, sudah tidak sakit lagi?"

Matanya meneliti wajahku.

"Alhamdulillah mas, Via udah sehat. Syukur kalau mas udah bikin sekolahan di sana, semoga bisa membimbing dan mendidik generasi penerus menjadi manusia-manusia yang takut dan bertaqwa pada Allah aamiin."

Mas hafidz membongkar tas yang dia bawa, dikeluarkannya oleh-oleh untuku, berupa buku-buku agama, berbagai macam makanan, baju-baju, dan  vitamin serta obat-obatan herbal.  Banyak sekali yang dia bawa.

"Dik, obat-obatan dan baju ini titipan dari Dr Maryam, dia kangen sekali padamu, cuma dia belum bisa pergi jauh, anaknya masih sangat kecil, Dr Maryam dan keluarganya titip salam untukmu."

Kujawab salam itu dengan segera. Ah orang-orang baik yang selalu memperhatikan dan mendukungku. Bersyukur tiada terhingga aku bertemu dengan kalian. 

"Mas bolehkah, baju dan obat-obatan ini kubagi pada teman yang lain?"

"Ini semua sudah menjadi milikmu dik, tentu saja itu terserah padamu, tetapi alangkah baiknya, adik bicarakan dulu pada yang memberi."

"Iya mas, bukan tidak menerima pemberiannya, tetapi lebih pada ingin berbagi rejeki aja."

"Bila niatmu begitu, tentu saja itu lebih baik. Dan insya Allah lebih barokah."

Ustadz Hafidz melemparkan senyum pada Mak Mirna.

Mak Mirna membalas senyumnya dan berkata. "Viana, ini memang suka sekali berbagi, saking sukanya dia jadi orang yang paling dikenal ditempat ini."

Aku mencubitnya sambil mendesis. 

"Lebay."

Akhirnya kami tertawa bersama. 

Ustadz Hafidz membuka, tempat makanan yang dibawanya, kemudian kamipun makan bersama.

Tak lama ustadz Hafidz mengeluarkan tabloid, dan  menunjuk fotoku disana.

"Masya Allah dik, kamu cantik sekali, mbak Maryam sampai menyimpan tabloid ini untuk mengurangi rasa rindunya padamu."

Bukannya senang dan bahagia aku melihat ustadz Hafidz memperlihatkan fotoku yang berada dalam tabloid itu. 

Tetapi ada rasa tidak enak, yang membuatku tertunduk malu.

"Dik, masih suka mengikuti kajian kah?"

"Masih mas." Jawabku pelan.

"Alhamdulillah dik, masih ingat dengan beberapa yang mas sampaikan tentang penyakit ain?"

"Iya mas." Kepalaku semakin tertunduk.

Aku tahu apa yang akan ustadz Hafidz utarakan.

"Dik, dari dulu hingga sekarang kamu itu wanita yang sangat cantik. Namun sekarang kecantikanmu bertambah berkali-kali lipat. Mungkin karena adik, bertambah dewasa, dan bertambah Sholiha aamin."

Aku tersipu mendengar ucapan ustadz Hafidz, dan sikutan mak Mirna, membuatku pipiku menjadi semerah tomat.

Diam sejenak dan kami melanjutkan makan,  aku tak dapat membalas ucapannya, dadaku berdenyut malu, menunggu apa yang akan dia sampaikan.

Ustadz Hafidz menyelesaikan makanannya, dan membiarkan kami menghabiskan makan siang dadakan ini. Disodorkan segelas air padaku. Ah rasanya berjuta kupu-kupu berterbangan di dadaku. Dan aku hampir ikut terbang menembus langit-langit.

Mas hafidz terus memperhatikan kami, kemudian berujar.

"Penyakit ain. Adalah penyakit yang ditimbulkan dari rasa hasad dan dengki, kenapa rasa hasad dan dengki itu hadir, salah satunya, karena kita memperlihatkan kelebihan-kelebihan yang kita miliki. Misal kekayaan, kecantikan, anak-anak yang sehat dan lucu dipajang di media sosial, atau kita pamerkan kepada orang-orang yang kita kenal. 

Orang yang memandangnya belum tentu senang. Namanya manusia ada saja rasa dengki. Berbahaya apabila dari rasa dengki menjadi suatu penyakit yang hadir pada diri kita. Maka itu, berkali-kali penyakit ain itu dijelaskan agar kita bisa menahan diri dari pamer, dan rasa senang yang berlebihan sehingga ingin memperlihatkannya pada orang lain. Dik, bersyukurlah karena dianugerahi wajah yang cantik. Semoga syukur mu itu bisa menjadi kamu wanita yang lebih taat dan bertaqwa pada Allah."

Aku dan Mak Mirna terdiam mencerna apa yang ustdadz Hafidz sampaikan.

"Terimakasih mas, atas nasihatnya, kemarin Via hanya ingin membantu saja maka, Via mau jadi model baju-baju itu."

"Iya ustadz, Via ini seringkali menjadi model dadakan bila ada pelatihan merias pengantin, dan acara fashion show karya-karya kami." Ucap Mak Mirna.

Ustad hafidz tersenyum, dan menjawab.

"Tidak apa-apa dik, mas hanya mengingatkan, takut adik lupa, karena mas khawatir adik jauh dari kajian-kajian dan meninggalkan Al Qur'an."

"Insya Allah nggak mas, Via masih  mengaji dan menambah hafalan koq, juga mengikuti kajian-kajian yang ada di lapas ini. Kalau enggak Via juga menyetel kajian itu di radio, yang belikan dulu."

"Iya ustadz, bahkan Viana seringkali mengajak kami untuk ikut mendengarkan kajian di mesjid, bahkan radiao di dalam sel sekarang gak pernah lagi nyetel dangdutan, kalah sama  ceramah yang  ada di radio, sama dengerin yang baca Qur'an. Asalnya sih bosen dan sebel, tapi lama-lama malah jadi seneng dan ketagihan. Jadi banyak ilmu." Mak Mirna menjelaskan dengan penuh semangat pada ustad Hafidz.

"Oh ya Alhamdulillah, dik kalau begitu. Terimakasih ya mbak sudah menjadi teman dik Via.  Ah ya, sudah berapa juz sekarang hafalannya?"

"Dua puluh juz mas, tapi sekarang malah susah nambah hafalannya."

"Masya Allah dik, mas bahagia sekali kamu sudah menambah hafalan sebanyak itu. Berazam lagi dik, untuk menambah hafalan Qur'an nya. Tetapi yang terpenting hati harus lebih taat dan lebih bertaqwa lagi ya, semoga Allah merahmatmu aamiin."

"Aamiin."

 Kami akhirnya ngobrol ngalor ngidul sampai pada keluarga ustadz Hafidz. Dengan berat hati dan lidah yang tiba-tiba menjadi kelu aku bertanya tentang Aisyah.

"Apa kabar kak Aisya mas, sekarang sudah punya anak berapa?"

Ustadz Hafidz menatapku dalam, seakan ingin melihat isi hatiku.

"Aisyah Alhamdulillah baik-baik saja dik, anak kami mau jadi tiga dengan anak bawaan Aisyah yang terdahulu. Sekarang Aisyah tengah hamil lagi.

Jawaban ustadz Hafidz bagai pisau yang mengiris-iris hati, namun aku tak mungkin memperlihatkan rasa sakit ini.

"Semoga Allah lancarkan semuanya ya mas, aamiin."

"Aamiin."

Ustadz Hafidz berusaha merubah suasana yang menjadi kurang enak itu dengan menceritakan keadaan desa kami.

Tanpa terasa waktu telah beranjak sore, dan ustadz Hafidz segera berdiri, untuk pamit, meninggalkan aku, yang akan sangat merindukannya lagi.  

Dengan enggan aku ikut berdiri mengantarkannya, sambil tak lupa mengirimkan salam utk mbak Maryam juga orang-orang desa yang aku kenal disana.

Kepergian ustadz Hafidz meninggalkan jejak sendu, dan sepotong hati yang dia bawa pergi bersamanya.

Dengan wajah penuh tanya diwajahnya, kugandeng tangan Mak Mirna meninggalkan aula tempat menerima para tamu.

Bersambung

YOUR REACTION?

Facebook Conversations