Benar-benar aku tertidur lelap. Dan terbangun ketika adzan subuh berkumandang.

Kembali dalam sel, segera kucari obat-obatan, amplop uang beserta secarik kertas dari ustadz Hafidz. Semua raib tak bersisa. Mana mungkin semua hilang begitu saja. Mereka tidak punya kaki untuk meninggalkan tempat ini, tak mungkin juga terbang karena mereka tak bersayap. Sungguh semua ini membuat emosiku kembali naik. 

Dengan penuh hati-hati kutanyakan pada teman satu sel ku. Semua menggelengkan kepala, kecuali Merry, dia malah tersenyum jahat dan menantangku. Sudah kalau begini kejadiannya. Aku tidak mau bertingkah konyol. Bukan, bukan karena aku takut melawan Merry, namun, aku lebih sayang badanku. Melawan dia, sama saja aku melawan orang gila. Dan aku tak mau juga disamakan dengan orang gila.

Kini aku harus berpikir jernih. Biarlah aku kehilangan uang, toh aku tidak akan membeli apa-apa disini. Secarik kertas yang menjadi penghibur hati bila aku tengah rindu sama ustadz Hafidz, dan juga penawar rasa sedihku kini tak ada lagi. Tetapi biarlah, toh isinya sudah aku hafal diluar kepala. 

Bila nanti aku membutuhkannya tinggal kupanggil dia didalam memori otakku. Yang paling menyedihkan aku kehilangan obat-obatan yang sangat aku butuhkan, seharusnya aku masih harus mengikuti beberapa terapi untuk kesembuhanku. Namun aku terlanjur terdampar disini dan harus menerima hukuman akibat perbuatanku.

Apa, yang bisa aku lakukan kecuali pasrah dengan semua keadaan ini. Aku percaya takdir, semua terjadi atas kehendakNya. Aku terlalu menggantungkan diri pada obat atas kesembuhan ku, aku lupa bahwa obat hanya perantara, tetap yang membuat sembuh adalah kuasa Allah. 

Bismillah, dengan penuh keyakinan aku mengobati diri sendiri dengan doa. Aku yakin Allah memberi penyakit sekaligus dengan obatnya, memberikan duka dengan penawarnya. Maka aku mulai terapi melalui air sebagai medianya, dan doa pagi petang sebagai obatnya. Kubacakan doa itu dan kutiupkan pada air, kemudian kuminum dan sebagian aku pakai untuk mandi. Selalu itu yang aku lakukan setiap hari tanpa bosan dan penuh keyakinan. 

Apa yang diragukan dengan kekuasaan Allah, kini aku jarang sekali merasakan sakit kepala, kulitku sudah tidak kusam lagi, wajahku kembali cerah. Bibir ku yang merah delima kembali segar. Terutama otakku kini terasa lebih terang. Aku gampang menerima pelajaran. Hafalanku bertambah. Dan aku kembali cantik seperti Viana yang dahulu. 

Aku selalu menebar senyum, tak kuindahkan Merry yang berkali-kali menacingku untuk berkelahi dengannya. Satu dua kali tamparan, dan jambakan di jilbabku serta tendangannya tak pernah aku lawan. 

Aku hanya memejamkan mata dan beristighfar bila Merry tengah merisakku. Aku tak mau lagi bertengkar, biar saja. Aku hanya meminta perlindungan pada Allah, agar aku tidak terpancing dan berbuat sesuatu yang memalukan. 

Lama kelamaan Merry, lebih banyak diam, dia lelah sendiri, segala pancingannya untuk membuatku berkelahi dengannya tidak pernah aku gubris. Bahkan tanpa disadari aku mulai banyak teman, teman-teman satu sel mulai menyukaiku. Mereka bilang aku sangat cantik dan baik, bukan hanya itu mereka mulai mau belajar mengaji padaku. 

Maka ya Allah, sekali lagi, nikmat mana yang harus aku dustakan. Engkau maha baik, aku sembuh karena kehendakMu. Dalam keadaan apapun kita memang harus selalu bersyukur ditengah kesempitan dan ketidak berdayaan, yakinlah, bahwa Allah satu-satunya yang dapat menolong kita, dan mengeluarkan kita dari segala kesulitan dan penderitaan.

Bersambung

YOUR REACTION?

Facebook Conversations