Aku tersadar ketika aku terbaring di bangsal rumah sakit LAPAS. Aku bangun dalam keadaan babak belur, tubuhku penuh lebam, wajahku bengkak karena dihajar Merry, bibiku pecah berdarah.

Perutku sakit karena diinjak-injak. Jangan tanyakan  bila aku sedang menarik nafas, rasanya sesak dan sakit. Sepertinya tulang rusukku  memar.  Karena keadaanku yang cukup parah. Aku tidur di bangsal ini selama dua hari. Aku diberi obat pereda nyeri. 

Penyakit lamaku belum sembuh total,  meski sel kanker didalam otakku sudah dilumpuhkan, namun aku belum benar-benar pulih. Aku masih mengkonsumsi obat itu. Termasuk obat pereda sakit kepala yang belakangan ini kembali kambuh. Aku dilarang stress oleh dokter, namun apa daya, stress sepertinya sedang bersahabat denganku.

Begitu keluar dari bangsal rumah sakit ini, aku harus berhadapan dengan pengadilan kecil. Dimana aku tertuduh sebagai pembuat keributan, yang mencelakakan diri sendiri. Merry, sudah menerima hukumannya. Dia telah dikurung selama dua puluh empat jam di ruang gelap. Kini giliran ku untuk mendapat hukuman itu. 

Jangan berharap hukuman akan berkurang dikarenakan aku sakit, hukuman tetap hukuman. Malah lebih membahayakan kalau aku tidak dihukum. Ini pasti akan menimbulkan kecemburuan pada tahanan yang lain, terutama Merry. Dia pasti akan bertambah benci padaku.

Antara takut, kesal, marah dan sakit. Aku harus menjalani hukuman itu. Sebelum pergi ke ruang gelap, aku mencari obat-obatan yang aku simpan didalam lemari. Namun setelah aku bongkar tetap tidak ketemu. Aku hanya bisa pasrah, karena telah ditunggu sipir yang akan mengantarkan ku keruang gelap. Pencarian aku hentikan dan berharap bahwa obat itu terselip diantara baju atau barang lainnya.

Aku menempati ruang kecil, gelap dan pengap. Disitu hanya ada selembar tikar tanpa bantal guling apalagi selimut. Apa yang dapat aku lakukan selain pasrah dan menerima hukuman itu dengan ikhlas.

Berbekal wudlu aku melaksanakan sholat dan dzikir. Teringat perpisahanku dengan mbak Maryam dan ustadz Hafidz ketika mereka melepaskan ku untuk berangkat ke lapas ini. Mbak Maryam memelukku erat, dia mberikan beberapa potong gamis dan jilbabnya, serta obat-obatan yang kuperlukan. 

"Via, adikku sayang. Maaf mbak tidak bisa mengantarmu ke tempat baru ya. Jalani hukuman ini dengan ikhlas. Jangan tinggalkan sholat, dzikir pagi dan petang nya tetap dibaca. Minum obat dengan teratur, baca dan tambah hafalan Qur'an nya ya. Mbak sayang banget sama via. Semoga Allah mengangkat derajatmu. Kamu wanita hebat, kelak kamu akan jadi perempuan sukses dunia akhirat aamiin." Mbak Maryam mengucapkan kata perpisahan sambil memelukku erat. Aku tak sanggup mengucapkan kata-kata. Hanya kuanggukkan kepala untuk menjawab semua ucapannya.

Ustadz Hafidz memandangku dan memberikan senyum lembutnya,  tatapannya teduh dan menyejukkan. Rasanya ingin aku berada di pelukannya. Namun tak mungkin, kami bukan mahram. Aku hanya mampu memandangnya dengan bersimbah air mata. Dia memberiku buku-buku tentang tauhid, hijrah dan sejarah para sahabat Rasulullah. Bahkan dia menyelipkan amplop diantara buku-buku itu. Ternyata dia memberiku sejumlah uang, serta secarik kertas.

"Maafkan mas, yang tak mampu memberimu lebih banyak lagi. Semoga uang ini dapat adik pergunakan untuk keperluanmu. Jaga diri baik-baik, jadilah Viana ku yang bersinar. Mas akan menunggumu, sampai adik bebas. Mas mencintaimu karena Allah. Semoga Allah melindungi mu dimanapun adik berada. Tawakal dan tambah ketaqwaanmu pada Allah. Karena Allah tidak akan menguji hambanya diluar kamampuannya. Semangat dik. Percayalah Allah maha baik. Kamu hambaNya yang Allah pilih, untuk menjadi manusia yang lebih tinggi derajatnya dari yang lain insya Allah. Semoga Rahmat Allah selalu besamamu aamiin"

Yang selalu menunggumu 

Hafidz

Secarik kertas itu aku simpan rapi diantara baju-baju itu. Namun belum kuperiksa apakah masih ada, karena obat-obatan aku saja raib. Semoga masih menjadi rejekiku, karena secarik kertas itu bagai mantra penyemangat hidupku.

Tanpa terasa aku tertidur. Aku bermimpi melihat seberkas cahaya, kemudian cahaya itu bertambah terang, aku mengikuti cahaya itu. Sesampainya di sana, kulihat tiga sosok yang aku kenali menyambutku, mereka merentangkan tangannya kearahku. Senyum mereka terlihat sinis dan mengerikan, mereka memanggil-manggil namaku dengan suara yang menyeramkan. Aku berbalik dan lari ketakutan. 

Namun ibu, Sonny dan Boy malah semakin mendekat kearahku, mereka mau mencekik aku. Aku berteriak dan sesak nafas, peluhku membasahi seluruh tubuh. Mereka hampir mencekik leherku dan aku menjerit, manangis dan memohon maaf  pada mereka. Tetapi mereka tidak mengindahkan tangisanku. 

Aku sudah tak sanggup lagi berlari aku pasrah, mungkin sudah ajalku, dan aku mati karena pembalasan dendam mereka, seketika aku terbangun dengan badan gemetar, sakit kepala menyerang dan lebih sakit dari kemarin, aku melolong kesakitan namun tak ada yang menolongku. Tidak ada obat dan air minum. Aku hanya bisa menangis dan menggigil. Diantara semua yang aku rasa, sepertinya aku lebih baik mati saja. Aku tidak kuat dengan siksaan ini. 

Ditengah rasa putus asa, aku teringat ucapan ustadz Hafidz yang mengingatkan aku untuk terus beristighfar. 

Tidak ada yang tidak mungkin dengan pertolongan Allah. Istighfar adalah kalimat yang sangat sakti, berkali-kali aku diselamatkan dengan istighfar. Ketika aku mau bunuh diri, seekor kecoa menyelamatkan aku karena istighfar. Kali ini pasti Allah pun akan menolongku untuk mengurangi rasa sakit ini. Dan aku berdoa agar rasa sakit yang kuderita menjadi bagian penggugur dosa-dosaku. 

"Allah yang maha penyembuh, sembuhkan aku dari rasa sakit ini. Ampuni semua dosa-dosaku, jadikan aku hamba yang selalu engkau rahmati aamiin."

Aku hanya mampu berdoa dan berdzikir. Tanpa terasa aku tertidur dan lelap.

Bersambung

YOUR REACTION?

Facebook Conversations