Semenjak dipindahkan ke LAPAS ini Dr Maryam, belum pernah menengokku. Aku maklum dengan jarak yang sangat jauh dari desa tempat tinggal kami. Jarak tempuh biasa bisa memakan waktu lebih dari dua belas jam.

Belum lagi jalanan yang buruk memperparah waktu tempuh  bisa mencapai lima belas jam perjalanan, bahkan bila hujan deras bisa mencapai delapan belas jam perjalanan. Dapat dibayangkan betapa lelah dan remuknya tubuh ini bila ingin bertemu denganku.

Hari-hari kulalui sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Bangun pagi, sholat subuh, aku selalu melanjutkannya dengan mengaji, murojaah lagi hafalan Al Qur'an. Hingga waktu makan pagi, kemudian dilanjutkan berbagai aktifitas lain termasuk berbagai keterampilan.

Aku belum mengambil jenis keterampilan yang akan aku pelajari dengan serius. Aku lebih senang mengulang bacaan Al Quran  di dalam sel. Jadi untuk mengisi waktu, 

 kupergunakan untuk mengulang hafalan Al Qur'an. 

Aku tidak pernah mencari perhatian dengan membaca Al Qur'an, karena menurutku ini untuk diriku sendiri, dan  aku ber azam untuk menjadi penghafal Al Qur'an. Bagaimana tidak, kitab itu membawaku dalam kesejukan hati. Ketentraman jiwa. Dan menjadi terapi dari jiwaku yang sakit. 

Ketika aku larut dalam bacaannya, tanpa kusadari teman-teman satu sel ku tengah memperhatikanku. Bahkan Anita, telah berada didekatku.

"Suaramu bagus, indah ketika membaca Al Qur'an, belajar dari mana, kamu punya guru mengaji ya?" Tanya Anita 

"Ya, dulu aku pernah punya guru tahsin, namun mbak Maryam yang lebih  banyak mengajarkan aku membaca Al Qur'an."

"Siapa dia, guru ngaji juga?"

"Bukan, beliau seorang dokter di desa kami."

"Wuih hebat, ada dokter yang pandai mengaji." Anita berseru takjub.

Aku tersenyum menanggapinya.

"Hai kamu, jangan pamer ya, mentang-mentang suaramu  bagus, kamu sengaja mengaji dengan keras, pengen dipuji ya, biar ketahuan orang- kalau kamu pandai mengaji?" Merry, berkacak pinggang dihadapanku.

Aku hanya terdiam, enggan mencari keributan. Namun Merry, menganggap lain dengan diamku, dia merasa tidak diindahkan, dan dia memukul kepalaku sambil berkata kasar.

"Jangan sok jago lo, gue ngomong gak di jawab malah diam. Nantangin gue Lo!" 

Aku bertambah diam dan berusaha menghindarinya. 

Merry bertambah marah, dia menarik jilbabku dengan keras, hingga hampir terlepas, aku menahannya sambil memeluk Al Qur'an. Tetapi Merry bertambah kalap ditendangnya dadaku dengan kencang sampai aku jatuh terjengkang. Tidak sampai disitu. Dia merampas Al Qur'an, menyobek dan menginjak-injaknya.

Dadaku panas. Amarah tak dapat ku bendung. Kitab yang aku junjung tinggi, penawar dukaku, penuntut hidupku di hina, diinjak-injak. Seketika aku mendidih dan menerjang Merry. Ku tendang kakinya, dia hampir tersungkur. Namun penguasaan tubuhnya yang bagus.tidakbuat dia jatuh. Dia bertambah marah dan meninju mukaku dengan sangat keras. 

Bibirku terasa asin, karena pecah akibat tinjunya. Aku tidak mau kalah, kuterjang dia sekuat tenagaku, kupukul dan kucakar wajahnya, kukuku tidak panjang namun dapat melukai pipinya. Merry membalas dengan menendang perutku, aku jatuh terlentang dan dia menginjak perutku. Setelah itu hanya kegelapan yang aku rasakan. Tubuhku terasa remuk perutku sudah tak Merasakan apa-apa, kebas dan semua gelap.

Bersambung

YOUR REACTION?

Facebook Conversations