LAPAS baru ini tidak lebih baik dari RUTAN kemarin. Hidup yang lebih keras sudah menanti didepan mata.

Aku dimasukkan ke dalam sel yang berjumlah tujuh orang termasuk aku didalamnya. Hampir semua dengan kasus yang sama. Kami sama-sama telah pernah melenyapkan nyawa orang lain

Didalam sel ini diisi tujuh orang dengan tiga tempat tidur bertingkat dan satu kasur gulung tipis. Sudah dapat dipastikan akulah yang akan tidur diatasnya.

Ada perasaan takut ketika memasuki sel baru. Sudah menjadi budaya orang baru akan kena bully, dan aku sudah harus siap dengan keadaan ini. Kisimpan barang-barangnya kedalam lemari. Untuk menghilangkan kegugupanku, aku mencoba tersenyum  untuk menyapa mereka.

Merry mendekatiku, mencengkram dan mengangkat daguku dengan tangannya, seperti meneliti hewan yang akan dipelihara. Dan dihempskannya daguku dengan kasar. Tubuhku sedikit limbung terkena dorongannya. 

" Cukup cantik, siapa namamu?" Dia bertanya sambil berkacak pinggang.

"Viana." Jawabku pelan.

"Hmm, berapa tahun, Kenapa bunuh orang ?" Selidiknya.

"Dua puluh tahun." Jawabku hampir berbisik.

"Hmm berapa umurmu, keliatannya masih sangat muda." Tanyanya lagi.

"Sembilan belas, tiga bulan lagi mau dua puluh."

"Masih kecil sekali, kenapa kamu jadi kriminal?" 

Aku bingung harus menjawab apa, dan hanya kutundukkan wajah tanpa menjawabnya.

Merry, terlihat kesal kepadaku, kemudian dia menarik jilbabku, sehingga wajahku tertengadah. Aku meneguk ludah, kupejamkan mata untuk mengurangi rasa kacau balau yang membuatku tubuhku merinding.

Namun tidak untuk orang-orang disekitarku. Mereka menonton perbuatan Merry terhadapku, seakan menilai, sekuat dan seberani apa aku menghadapinya. Namun aku bisa apa, aku anak baru yang datang tanpa mereka harapkan, sesama pesakitan yang tengah menempuh hukuman. Yang jelas hukum rimba akan berlaku disini.

"Kalau ditanya tuh jawab, bukannya diam. Kalau sudah pernah membunuh orang berarti kamu bukan orang baik. Kamu penjahat, gak pantes kamu disini memakai baju kaya mukena begini. Jangan sok baik kamu ya. Kamu harus nurut sama aku, dan harus sopan sama yang lain. Harus mau diperintah, dan berbagi uang serta makanan yang kamu punya, mengerti?" Bentaknya.

Aku hanya mengangguk. Ya Allah, aku masuk kandang singa ini, tanda disadari tubuhku gemetar. Ingin rasanya menangis, aku masih letih, tubuhku belum sepenuhnya sehat. Namun aku tidak boleh terlihat lemah, karena akan menjadi sasaran empuk buat mereka yang merasa perkasa. 

Tetapi juga tidak bisa terlihat frontal, karena akan mengakibatkan kejadian buruk dengan Dona kembali terulang. Kuhela nafas panjang berkali-kali untuk meredakan segala gejolak dalam hati. Dan berusaha menghindari segala bentuk gesekan dengan bos Merry.

Dalam setiap sel pasti ada orang yang mengaku menjadi bos, dan bos didalam sel kami adalah bernama Merry. 

Merry, sangat dominan dan bengis, dia lebih keras dibanding Donna. Bos kami d RUTAN kemarin. Merry berperawakan tinggi besar, di badannya terdapat banyak tato, rambutnya cepak berwarna pirang, bentuk tubuhnya kasar, tidak terlihat kelembutannya sebagai wanita, malah dia lebih pantas terlihat sebagai preman pasar, dia lebih sadis,  kata-katanya lebih jahat. Dan dia mempunyai seorang kekasih di dalam sel ini yang bernama Anita. 

Anita seorang perempuan kecil yang manis, dia lembut, jari-jarinya lentik, tutur katanya seringkali terlihat manja. Wajahnya bulat, namun anggun. Dari bentuk tubuh serta tutur kata dan kemanjaannya. Tidak akan menyangka kalau dia pun pernah melenyapkan orang.

Tika, perempuan bertubuh gempal dan jarang sekali tersenyum. Keningnya selalu berkerut, seolah beban hidupnya tak pernah hilang. Kulitnya hitam, jari-jarinya pendek dan bulat. Dia hanya memperhatikanku dari bawah hingga atas. Setelah itu seolah tak peduli dengan keadaan sekitar, dia duduk sambil memeluk lututnya.

Mona, perempuan bertubuh tinggi, dan kelewat kurus. Lebih sering mencibirkan bibirnya, memandangku Hanya dengan sudut mata, dan tampak nyinyir, seakan yang ada didepan dia tak lebih berharga, daripada kuku-kuku jarinya yang sedang dipolesi pewarna murahan dengan bau yang sangat menyengat.

Mirna, wanita dengan umur yang sudah cukup tua, mungkin menjelang lima puluh tahun. Dia hanya memandangku dengan mata penuh tanya, seulas senyum diberikannya padaku. Wajahnya terlihat teduh menggambarkan kalau wanita ini nampak sabar, dan bersahabat. Orang-orang di dalam. Sel ini memanggilnya "Emak".

Olive, tubuhnya semampai, suaranya halus, lebih senang mempermainkan rambutnya yang ikal panjang. Dia bersikap cuek, tidak mengindahkan keadaan sekitar.

Babak baru hidupku telah dimulai, dan aku harus lebih kuat lahir batin. Tak ada bisa menolongku, dalam keadaan apapun rimba kehidupan yang ganas harus aku lalui dengan penuh ketawakalan.

Bersambung

YOUR REACTION?

Facebook Conversations