Kesehatanku sedikit membaik. Semakin aku giat membaca buku doa-doa itu semakin aku mèrasakan ketenangan, ada beberapa yang telah kuhafal termasuk doa pagi dan petang. Tak kubiarkan diriku berdiam tanpa berzikir kepada Allah. Ketentraman semakin merasuk kalbuku.

Dengan kondisiku yang mulai membaik, aku dipindahkan kedalam sel tahanan wanita, aku ditempatkan bersama tujuh orang dengan kesalahan yang berbeda-beda. Diantara itu semua kasuskulah yang terberat, aku narapidana dengan kasus pembunuhan yang melenyapkan tiga nyawa dengan sengaja. Salah satu teman selku ada seorang pengedar obat terlarang. Didalam sel itu pula día masih bisa mengedarkan obat-obatan itu. 

Seringkali aku dirayunya untuk mengkonsumsi lagi. Namun dengan teguh selalu kugelengkan kepala. Karena penolakanku itulah dia membenciku dan selalu mencari gara-gara agar bisa memukulku. Beberapa kali aku terkena tamparannya. Belum lagi kata-kata kasar dan sebutan pembunuh selalu ditujukannya padaku. Sifatnya yang dominan menjadikan dia, bos besar dalam sel tahananku, hingga semua orang takut padanya.  

Tamparan dan  tendangan selalu mampir pada tubuhku, namun aku tidak pernah membalas juga tidak mengaduh. Tak sedikitpun, kuperlihatkan rasa takut padanya, sikap itulah yang membuat dia semakin membenciku. Namun dalam  kesedihanku, hatiku masih bisa berucap syukur karena Dr Maryam masih sering menegokku, sampai suatu saat sipir penjara  memberikan jadwal sidang pertamaku. Aku  mempersiapkan diri untuk menghadapi sidang tersebut.

Sore yang tenang Dr Maryam datang menengokku dengan membawa sebuah surat dari Ustaz Hafiz. Tanganku gemetar menerimanya. Maka begitu Dr Maryam pulang, segera robek amplop surat itu, dan kubaca dengan hati yang berbunga.

"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh,"

Adik Viana yang Sholehah, sengaja saya berkirim surat padamu karena saya tidak dapat menyampaikan langsung dan bertatap muka dengan adik. 

Dik, ijinkan saya menjelaskan beberapa hal yang perlu adik ketahui. 

Mengenai rumah adik yang telah saya beli, saya menghibahkan kembali rumah itu pada adik, bila kasusmu telah selesai, dan adik bebas dari segala hukuman, maka kembalilah adik ke rumah itu. 

Namun ada yang harus adik ketahui, bahwa saya membeli rumah itu atas bantuan orang tua saya dengan perjanjian yang harus saya terima. 

Saya harus mau dijodohkan dengan Aisyah, dia adalah teman kecil saya. Dahulu kami memang telah dijodohkan, namun Aisyah dan aku menolak karena Aisyah telah terlanjur jatuh cinta pada Azami teman baikku. Mereka kemudian menikah, namun dua tahun yang lalu Azami meninggal dunia karena kecelakaan. Azami meninggalkan istri dan anak yang masih bayi. Kini aku harus menikahi Aisyah dan ini kulakukan demi baktiku pada orang tua dan menjaga seorang janda juha anak yatim dari sahabatku. 

Dik Viana yang sholeha, bukan aku tidak tahu akan perasaanmu terhadapku, dan aku telah mengatakan padamu bahwa aku akan mencintaimu karena Allah. Tanpa sadar hal itu telah terjadi. Melihat kesungguhanmu dalam menuntut ilmu dan keseriusanmu untuk berubah menjadi seorang wanita yang bertaqwa sungguh itu membuat hatiku tergetar, dik rasa cintaku padamu telah tumbuh dan kemudian menjadi subur tanpa aku sadari. Selalu kuhindari bertatap mata denganmu, dan aku selalu melihat rasa kasih itu. Aku takut terbuai dan melahirkan sebuah dosa. 

Dik, aku ingin mencintaimu karena Allah. Karena sudah menjadi takdirmu. Kau pindah kedesa kami, kemudian kau mulai belajar agama yang selama ini tidak pernah kau pelajari. Sudah takdirmu kau bertemu denganku ketika dini hari kau tak dapat menahan ràsa mualmu, sehingga sampai pada mushola kami. Semua tìdak ada yàng kebetulan, takdirmu lah yang mèmbimbingmu, untuk berjumpa denganku.

 Dik, ditengah perjuangamu ingin memperbaiki akhlak dan kehidupanmu. Allah mencuci dosa-dosamu dengan sakitmu, dengan hukuman  duniawi, ketika kau harus masuk penjara. Hatiku pedih melihat keadaanmu, bila bisa ingin kugantikan posisimu untuk menerìma semua sakit dan penderitaan yang kau alami saat ini. Aku ingin berada disampíngmu namun keberanian belum aku dapatķan.

Dik, janganlah bersedih dengan surat ini, karena kegundahanku dalam memikirkanmu, dan ketidakberdayaanku untuk menolak keinginan orang tuaku. 

Ini harus aku sampaikàn. Aku akan menikah dengan Aisyah. Sebelumnya telah aķu cerìtakan tentang dirimu pada Aisyah. Hatiku telah tertambat padamu, namun keadaan yang memaķsa kita untuk tidak dàpat bersama saat ini. 

Aku ingin menikahimu, apabila Aisyah mengijinkàn dan bilà waktu memungkinkan maukah kau màu mènjadi istriku? 

Dik, tidak perlu kau jawab suratku ini bila hatimu belum siap. Tetaplah menjadi Viana yang sholeha, yang semakin memancarķan kecantikan alami yang lahir dari hati yang bersih. Tetaplah menjadi Viana yang bertaqwa dan tawakal. Tetap bersyukur karena Allah memberikan waktu untuk bertaubat didunia, sehingga masih ada kesempatan kita kembali dalam keadaan husnul khotimah.

Dik, maafkan aku bila surat ini membuatmu terluka. Namun aku ingin kau tahu bahwa aķu telah mencintaimu, semoga Alloh meridhoi kita suatu saat  nanti. Jaga kesehatanmu. Jalani semua hukumanmu dengan sabar dan ikhlas. Istiqomahlah dalam beribadah dan memohon ampun padaNya. In sya Allah akan kujaga dan kurawat rumahmu sampai kau kembali.

"Wassalamu'alaykum warohmatullahi wabarokatuh"

Hafiz

Aku tak mampu menggambarkan isi hatiku, dadaku bergemuruh airmataku berurai. Bibirku bergetar, rasa saķit dan bahagià bercampur menjadi satu. Aku terisak, tangisku pecah pikirànku kalut, ditengah tangisku Donna bos besar di selku membentak sambiļ menendangķu, aku yang tidak siap dengan serangannya, hingga membuatku terhempas,  kepalaku membentur besi. Rasa sakit yañg hebat dikepaku kembàli menyerang dan aku tak sadarķan diri.

Bersambung

YOUR REACTION?

Facebook Conversations