Lingkungan baru, suasana baru, teman baru, penampilan baru. Dan suasana hati yang baru. Lingkungan mengubahku dengan luar biasa. Dukungan orang-orang yang menyayangi aku tanpa pamrih, amat terasa.bak Maryam dan suaminya. Ustadz Hafidz memantau perkembanganku dalam berhijrah.

Namun aku tak dapat menahan rasa berubah secara perlahan terhadap ustadz Hafid. Kini aku bukan hanya memandang dia sebagai guru dan pembimbingku. Hatiku berkhianat, ketika aku hanyaenginginkan dia sebagai guru, namun hati dengan pongah berubah menjadikan ustadz Hafidz sebagai sosok yang aku rindu, hatiku menginginkan dia sebagai sosok lelaki yang dapat mendampingiku.

Kerinduan membuncah dan hampir mengiris-ngiris hatiku. Mendengarkan suara ustadz Hafiz menjadi suatu keharusan bagiku. Sakitnya melebihi ketergantunganku pada obat terlarang. Jiwaku mengigil ingin kudekati dan kutatap wajahnya, namun ketidak mungkinan mebuat batinku sakit dan aku tidak punya obatnya. 

Bahkan hanya sekedar ingin menatap wjahnya pun sangat tidak bisa. Aku ingin bertatapan, namun dia selalu menundukkan pandangan. Aku mengikuti kajiannya namun tak dapat melihat wajahnya. Karena kami selalu dipisah oleh hijab. Kepedihan yang tak pernah kurasakan menghantam jiwa. Dan aku meradang sendiri tak mampu berbuat apa. 

Hatiku tak dapat dicegah,  Viana yang selalu menjadi pujaan para lelaki, kini terbalik, sekarang aku yang memuja ustadz Hafidz, sayangnya, cinta dn rindy ini hanya aku yang rasa. Dan akhirnya kuberanikan diri untuk mengirim pesan lewat whatsaap.

"Aku ingin menemuimu." Tuliskan.

"Jangan aku mau membaca qur'an." Jawabnya

"Apakah kehadiranku menganggumu bila sedang mengaji?" 

"Ya." 

"Kenapa ? Aku hanya ingin mendengarmu mengaji dan itu membuat hatiku sejuk." Paksaku.

"Nanti aku kirimkan murotal untuk kamu dengarkan." 

"Tapi aku ingin memandang wajahmu."rajukku

"Jangan." Katanya lagi

"Kenapa? Begitu menjijikannya kah aku bagimu sehingga memangdang wajahku saja kamu enggan ? " serbuku.

"Bukan itu, aku harus menjaga pandanganku, bukan hanya aku tapi setiap manusia harus menjaga pandangannya." Jawabnya lagi.

"Aah banyak sekali alasanmu hanya karena aku tidak boleh menemuimu, hatiku sakit karena ingin bertemu dan terus menikirkanmu." Ucapku sambil meluapkan emosi.

"Maaf dik, itu sangat tidak boleh memikirkanku atau aku memikirkanmu karena setan akan menggoda kita pada hal-hal yang diharamkan dalam al qur'an." Urainya.

"Sebegitu ketatnya kah al qur'an melarang manusia hanya karena ingin bertemu, ingin menjadi kekasih dan berbagi suka maupun duka." Rasanya aku mulai putus asa.

"Al qur'an diturunkan sebagai tuntunan buat umat manusia , agar tahu batas mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan karena dengan begitu manusia tidak jatuh pada lembah dosa dan selamat hidupnya di dunia maupun  akhirat,  sesungguhnya manusia Allah ciptakan hanya untuk beribadah kepadaNya." Jawabnya.

"Bagaimana caranya agar kamu mencintaiku dan aku dapat menjumpaimu kapanpun aku mau." 

"Aku tidak akan mencintaimu karena nafsu, aku ingin mencintaimu karena Allah." 

"Kalau begitu cintailah aku karena Alloh." Tantangku.

"In sya Allah aku tidak berani menjanjikan apapun padamu. Dan sebaiknya kita akhiri perbincangan kita kali ini, karena aku takut syetan sedang mengintipku dan mèncari-cari kelemahanku sehingga dia menyeretku dalam dosa." 

"Ah kamu adalah laki-laki paling bodoh dan munafik yang pernah aku temui." Ucapku mulai marah.

"Terimakasih telah mengìngatkan aku sebagai lelaki bodoh." 

"Tunggu mas maafkan aku, bukan itu maksudku!!!" Ujarku

Tak ada lagi jawaban dan aku hanya bisa teŕdiam memikirkannya dengan hati yang sakit sambil mulai membaca istighfar yang telah diajarkannya. Apa daya hanya itu yang aku bisa untuk mengingat Tuhan dan memohon ampùn padaNya.

Apakah kerinduanķu padanyà adalah sebuah kesalahan baru yang ķubuat. Aku belum menemukan jawabannya.

Bersambung

.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations