Oleh: Dini Handayani
"Salaaaaaah.....!!"
"Iya ma..."

"Cepet gali lubang buat sampah."

"Sebentar ma, aku lagi makan."

"Kamu itu, kalau disuruh selalu saja ada alasan ya, sekarang!!"

"Ya ma." Aku segera bergegas dan meninggalkan makananku. 

Dengan tangan kecilku, kuambil cangkul dan menggali tanah. Baru sekitar dapat dua puluh senti lubang itu kugali, tiba-tiba.

"Bugh.... Bugh..."

Balok kayu menghantam punggung kecilku. Aku terperosok dan melihat mama tengah memegang sebilah kayu dengan wajah murka.

"Ampun ma." keluhku.

"Kamu itu, manusia atau ayam, makan berantakan." Bentak ibuku.

"Tadi aku lagi makan, belum selesai ma, langsung menggali lubang yang mama suruh."

"Aah banyak alasan, memang kalau sekali anak pembawa sial ya tetap pembawa sial!" Bentak mama sambil mengayunkan balok kayu itu kearahku, kutangkis dengan lengan kananku, namun mama terus menghantam ku sebelum dia puas menyiksa aku.

"Bugh... Bugh.. bugh." Balok kayu itu terus menghantam ku tanpa ampun  Kalau aku belum berdarah mama belum berhenti menyiksa aku.

Setiap hari itulah yang aku dapat dari mama, mana pernah aku bisa berdekatan atau bermanja-manja padanya, melihatku saja mama seperti melihat sesuatu yang menjijikan, bahkan tak jarang mama meludahi aku, bila dia sedang kesal dan marah. Ada kesalahan ataupun tidak, tetap aku akan dimarahi. Mama sangat membenci aku. 

Pernah suatu ketika,  aku ingin sekali mendapat elusan tangan dikepala. Kudekati mama dan menyentuh kakinya, kupijiti dengan hati-hati.

"Eh, ngapain kamu pijit-pijit kakiku?"

"Enggak ma, mungkin mama cape, aku hanya mau mijitin."

"Alaah, gak usah sok akrab kamu, sana." Mama mengusir dan menendangku.

Aku terjungkal, dan langsung pergi menghindarinya. Setelah kejadian itu, mana berani aku mendekati mama.

Aku dan mama tinggal di pesisir pantai Utara, mama bekerja pada salah satu rumah karaoke plus, mama sebagai 

Pemandu atau bahkan menjadi penyanyinya, karena suara mama sangat halus dan merdu.

Aku sangat akrab dengan lingkungan itu. Melihat laki-laki dan perempuan saling berangkulan dan bersikap mesra adalah hal biasa bagiku, sehingga berangkulan dan berciuman menjadi   sesuatu hal yang wajar.

Tugasku sehari-adalah memasak, tak jarang mama memerintahkan aku memotong ayam piaraan untuk kami makan. 

Aku paling suka bila mama menyuruhku memotong ayam. Ayam itu tak pernah aku potong, aku cukup memukul kepalanya dengan batu, dan bila melihat ayam itu menggelepar mati kesakitan, adalah sesuatu yang mengasikan, dan aku tersenyum melihat kesakitan itu. 

Entah kenapa aku suka sekali menyiksa binatang hingga mati, bukan satu kali aku menyiksa binatang, bahkan anak kucing sering kusiksa  hingga mati. Penyiksaan yang paling aku sukai adalah, kepala kucing itu aku ikat memakai kantong plastik sehingga dia mati lemas, kemudian aku akan  menggali lubang dan menguburnya. 

Aku merasakan kesenangan yang aneh bila aku menyakiti binatangh hingga mati. Entah kenapa, tetapi bagiku itu sangat menghiburku. Apalagi bila aku telah mendapat siksaan dari mama. Bahkan tanpa aku sadar, aku senang  mama menyiksaku, ada rasa berdebar ketakutan. Namun ada rasa ingin membalas kesakitan ini. Semakin aku disiksa semakin aku ingin tertawa. Meski aku menggigil takut melihat wajah seram mama.

Mamaku adalah perempuan tercantik, ditempat mama bekerja, suaranya yang merdu, membuat mama  terkenal di antara para tamu-tamunya.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations