Oleh: Watinah

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 4.30 pagi, suara panggilan shalat di masjid depan rumahpun sudah tak terdengar lagi, tapi badan ini rasanya enggan beranjak meninggalkan tempat tidur.

Dengan sedikit lunglai, aku paksakan diri untuk meninggalkan tempat tidur dan beranjak ke kamar mandi. Setelah selesai menunaikan hajat, aku pun ambil wudhu untuk menunaikan sholat subuh. Setelah selesai sholat, akupun meminta dan mengadukan seluruh keinginanku kepada sang penguasa jiwa. Duhh, sebenarnya diri sudah merasa sangat malu, karena terlalu banyak permintaan, sedangkan kewajiban sering aku lalaikan.

Setelah semua isi hati aku ungkapkan kepada sang pemilik jiwa, akupun membuka mukena dan aku gantungkan di belakang pintu kamar tidurku. Dengan rasa yang agak malas, aku berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan   anak- anak dan suami. Aku buka kulkas untuk mencari cari sisa bahan makanan yang bisa dimasak untuk sarapan pagi ini. Setelah mendapat bahan yang aku cari, akupun mengambilnya dan menutup kulkas kembali dan mulai menyiapkan semua perlengkapan masak yang dibutuhkan.

Beberapa saat kemudian, hp ku berdering kencang. Aku merasa kaget karena tak biasanya pagi- pagi ada telepon. Aku pun membuka hp , kulihat tak ada nama pemilik no tersebut. Aku pun mengangkatnya dan aku ucapkan salam kepada orang yang ada diujung telpon. " Assalamualaikum" kataku, orang diujung telpon menjawab." Waalaikumusalam," jawabnya. Umi Rifa mau telpon sekarang bisa g ya?? Katanya lagi. " bisa, " jawabku. Ternyata telpon dari musrif abang Rifa di pondok. Tak lama suara abang Rifa menyapa, dan kami saling bertanya kabar masing- masing.  Dan abangpun minta ditengok ibunya ke pondok. Dan tidak lupa dengan berbagai macam pesanan jajanan kesukaan dia.

" ibu bikinin martabak telur sama ayam serundeng ya??' Sama jajanan, tetserah ibu aja mau bawain apa", kata abang lagi. Tak terasa sudah hampir 30menit kami melepas rindu lewat jaringan telepon. Obrolan pun kami akhiri, karna ada tugas- tugas yang harus kami kerjakan.

Hari yang ditunggu untuk menengok abangpun sudah tiba, kami biasa berkunjung ke pondok hari Jumat, karna hari itu libur, jadi kami ada banyak waktu untuk ngobrol lebih lama. Pagi- pagi sekali aku sudah memasak semua pesanan abang. Martabak telur, piscok dan ayam goreng serundeng sudah masak, tinggal beres- beres dan berangkat ke pondok abang. Tak lupa, aku ambil uang yang selama ini aku kumpulkan, untuk membayar spp dan mencicil uang tahunan. Aku hitung- hitung ternyata uang nya tidak cukup, aku pun mencoba mencari cari di dompet, barangkali ada uang yang terselip di dompet, dan alhamdulillah sudah cukup buat bayar spp sebulan dan mencicil  sedikit  uang tahunan. Dengan menggunakan motor yang sudah lumayan tua, aku ,suami dan kedua anak perempuan ku, kami pun berangkat ke pondok. Walaupun dempet- dempet tan dimotor karna postur yang lumayan jumbo- jumbo, tapi kami merasa senang karna ingin melepas rindu ke anak pertama kami. Setelah sampai di pondok kami pun saling bercerita, dan tanpa di komando air mata kami tumpah, bak drama  di pertengahan cerita.

Tak terasa waktu sudah siang, dan kami harus pulang. Sebelum pulang, akupun pergi ke kantor untuk urus- urus semua bayaran. Sebelum bayar, aku sempet ngobrol sama ustadz untuk menanyakan perkembangan abang. Dan aku keluarkan uang dari dompet ku untuk bayaran spp, uang tahunan dan tidak lupa aku titip kan uang 100ribu buat jajan. Setelah semua uang aku serahkan, tiba- tiba hp di dalam tas berdering. Aku buka layar hp, dan terlihat nama guru baru kakak Rayya. " Assalamualaikum, iya bu guru ada apa ya??, tanyaku. " waalaikumusalam, bu Rayya belum ngumpulin raport ya?? Soalnya di cari di sekolah tidak ada, kalau belum tolong dikumpulkan secepatnya ya!, soalnya kalau sampai  akhir Agustus belum dikumpulin, Rayya tidak bisa sekolah karena DEPODIK nya dah mau ditutup". Ungkap beliau di ujung telepon. Tanpa pikir panjang aku pun menyanggupi permintaan bu guru. 

Baru aku berfikir, uang dari mana lagi untuk menebus raport Rayya. Karena memang raport Rayya belum bisa diambil karna masih memiliki tunggakan sebesar Rp 1.723.000. Tanpa berfikir dapat uang dari mana, aku pun beranikan diri untuk menghubungi kepala sekolah Rayya yang lama, untuk konfirmasi bahwa aku mau membayar kekurangan uang sekolah untuk bisa mengambil raport. Aku hubungi semua kerabat untuk minta tolong tebusin rapaort Rayya, semua bilang tidak ada, rasanya harapan sudah tidak ada. Akhirnya aku beranikan diri menghubungi teman ku dan alhamdulillah ada yang bersedia memberikan pinjaman, tapi dalam kurun waktu 4 hari uang harus kembali. Tanpa pikir panjang aku pun menyanggupi, daripada anakku tidak sekolah, pikirku dalam hati. Waktu sudah pukul 2 siang, aku kayuh sepeda untuk kesekolah dan melunasi tunggakan, dan raport pun aku dapatkan. Aku putar balik sepedaku, dan aku pun mengantarkan raport yang sudah dinantikan oleh guru Rayya yang baru. Ternyata tepat waktu, bu guru sudah menunggu dan aku serahkan raport itu. Akhirnya satu masalah selesai, dan tinggal menunggu tanggal 31 yaitu saat mengembalikan hutangku. 

Mungkin nanti ada kejutan yang akan Allah tunjukan lagi kepada ku, semua ini bukti bahwa pertolongan Allah itu datang di saat yang tepat. Di saat kita tak lagi ada cara, yakinlah Allah maha kaya. Dan yang perlu kita yakini, bahwa Allah tidak akan menguji di luar batas kemampuan hambaNya.

Wallahu a'lam bishowab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations