Oleh: abun_nada
"Tuhan kan Maha Pengampun. Kalau cuma gara-gara dosa, lalu Tuhan mengadzab hamba-Nya, berarti Dia tidak Maha Pengampun. Sebab, Maha kan maknanya superlatif di atas superlatif.

Artinya, sebanyak apapun dosamu, pasti diampuni. Yang penting positif thinking saja sama Tuhan." Pernah dengar yang semisal ini?

Ungkapan itu sekilas tampak logis. Padahal ia dibangun di atas argumentasi yang berat sebelah. Sebab, Allah bukan hanya Maha Pengampun. Allah juga keras siksa-Nya. "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat keras siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Maidah: 98)

Ada juga yang berkata, "Tuhan itu sesuai persangkaan kita." Ungkapan tersebut sebenarnya adalah kutipan dari hadits qudsi: "Aku (Allah) sesuai persangkaan hamba-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku." (HR. Bukhari). Ibnu Abi Jamrah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan persangkaan hamba di sini adalah persangkaan hamba bahwa Allah ijabah doanya, Allah terima taubatnya, Allah ampuni dia lewat istighfarnya, Allah beri dia pahala atas ibadah yang dia lakukan sesuai syarat-syaratnya, dan yakin janji Allah pasti benar. (lih. https://www.islamweb.net/ar/fatwa/8736/معنى-قول-الله-في-الحديث-القدسي-أنا-عند-ظن-عبدي-بي )

Artinya, seorang hamba membangun prasangka postif kepada Allah setelah ia melaksanakan syarat-syarat yang membuatnya layak mendapat perlakukan positif dari Allah. Ini lebih logis. Sesuai dengan posisi kita sebagai hamba, dan Allah sebagai Rabbul 'alamin.

Maka, jika ada orang yang tidak mau meninggalkan dosa karena yakin bahwa Allah pasti mengampuninya, itu pemikiran yang keliru. Dia membangun prasangka pada Allah di atas hawa nafsu. 

Rasul bersabda, "Wahai kamu sekalian, bertaubatlah kepada Allah dan mintalah ampunan. Sesungguhnya aku (Muhammad) bertaubat kepada Allah seratus kali sehari." (HR. Muslim). Perlu kita ingat bahwasanya, "tidak ada yang remeh di hadapan keadilan Allah. Pun, tidak ada yang tampak berat jika Allah datang dengan fadhilah-Nya." (Ibnu Abi Jamrah). .

Kita memang mesti membangun prasangka baik pada Allah. Tapi, prasangka itu mesti dibangun di atas dasar dalil yang shahih. Bukan hawa nafsu.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations