Si Pemimpin Kafilah akhirnya bekerja keras menyembuhkan Wazir Raja. Ternyata penyakit itu adalah penyakit yang sangat mematikan dan belum ada obatnya. Dia bekerja keras mengumpulkan berbagai tanaman herbal yang di kenal mujarab.

Syahida Amalina A’la, Siswi SDIT Insantama Bogor

Dahulu kala, di sebuah kerajaan yang sangat megah di tepi laut yang indah, hiduplah seorang petani miskin. Walaupun miskin, tapi petani ini sangat jujur dan dermawan. Itu sebabnya si petani sangat disukai oleh para tetangganya.

Suatu hari di hari yang sangat panas, datanglah sebuah rombongan kafilah dagang. Mereka juga membawa beberapa karavan. Rombongan tersebut lalu diantar menuju istana yang megah.

Pemimpin rombongan tersebut sangat kagum dengan keindahan istana tersebut. Betapa tidak, catnya berlapis emas. Lampion-lampion bergantung indah di langit-langit. Lorong dan serambi dihiasi dengan air mancur yang menyejukkan.

“Perkenalkan siapa dirimu, Anak Muda.” Kata Sang Raja. 

“Saya adalah pemimpin rombongan kafilah dagang yang berasal dari Negeri Timur. Pekerjaan saya sehari-hari adalah sebagai pedagang obat paling mujarab di seluruh dunia. Saya mewarisi kafilah ini dari ayah saya. Saya harap Baginda bermurah hati mengizinkan saya menetap di sini untuk sementara waktu.” Jawab Si Pemimpin Kafilah.

Raja mengizinkan rombongan itu menetap di negerinya dengan syarat dapat menyembuhkan penyakit yang diderita oleh Wazir Sang Raja.

Si Pemimpin Kafilah akhirnya bekerja keras menyembuhkan Wazir Raja. Ternyata penyakit itu adalah penyakit yang sangat mematikan dan belum ada obatnya. Dia bekerja keras mengumpulkan berbagai tanaman herbal yang di kenal mujarab.

Berkat kepandaiannya, dia dapat menemukan obatnya. Saat di uji cobakan kepada Sang Wazir, berangsur angsur penyakit itu hilang dari tubuhnya.

Mengetahui kepandaian Pemimpin Kafilah, Petani menjadi iri. Hilanglah sudah semua sifat baik yang ada dalam dirinya. 

Petani menyusun rencana jahat. Diam-diam dia menaruh racun dalam minuman Sang Raja. Sang Raja pun jatuh sakit. Sakitnya tak kunjung sembuh. Kemudian para pengawal istana mencari Pemimpin Kafilah. Namun saat itu, ia sedang tidak ada di sana.

Petani memanfaatkan kesempatan ini. Dia mencuri obat-obatan mujarab milik Pemimpin Kafilah. Saat dia meminumkannya pada Raja, Raja segera pulih. Sekarang, Raja merasa lebih percaya kepada Petani itu ketimbang kepada Pemimpin Kafilah.

Saat ada kasus keracunan makanan yang sudah busuk mewabah di istana, Raja memanggil Petani. Namun, si Petani tak bisa berbuat apa apa. Dirinya tak bisa menyembuhkan penyakit tersebut.

Petani lalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Raja murka, dan menjebloskannya  ke dalam penjara.

Raja segera memanggil Pemimpin Kafilah. Dia datang dan bersedia membantu Raja. Sang Raja pun sembuh.

“Maaf Paduka, tapi saya mohon Baginda membebaskan Petani dari penjara. Dia iri pada saya. Mungkin saya bisa mengajarinya membuat obat.” Mohon Pemimpin Kafilah.

Raja menyetujuinya, dan memerintakan pengawalnya membebaskan Petani. Ia sangat senang, dan berjanji akan belajar sungguh-sungguh.

Malam itu, diadakan pesta besar-besaran di istana. Seluruh rakyat diundang. Dalam pidatonya, Raja berkata bahwa Pemimpin Kafilah tak harus pergi. Namun, bisa tetap tinggal di negeri itu selamanya. Raja juga menyanjungnya dan mengatakan bahwa ia adalah pahlawan penangkal penyakit.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations