Oleh : Syahida Amalina A'la
Pelajar Kelas 6 SDIT Insantama Bogor
Seri Muhammad Al Fatih (Bagian 2)

Kematian Sultan Murad membuat suasana sedih yang teramat dalam bagi segenap rakyat Utsmani. Namun kematian seorang Sultan bukanlah akhir dari segalanya. Kehidupan harus tetap berjalan dan kepemimpinan harus segera digantikan.

Alun Alun Edirne.

"Wahai rakyatku, Ayahku, Sultan Murad ll, Sultan Turki Utsmani, telah dipanggil menghadap Allah. Beliau ingin agar Aku menaiki tahta Sultan untuk yang kedua kalinya. Siapapun yang setia padaku, akan ikut bersamaku. Sekarang, Aku akan kembali ke Amire Sarayi untuk menggantikan ayahku." Kata Muhammad di depan rakyatnya.

Maka, berangkatlah Muhammad bersama rakyatnya menuju Amire Sarayi [Sarayi : Istana]. Pelantikanpun dimulai. Pedang kembali disarungkan dan serban Sultan, kembali bertengger gagah di ubun ubun Sultan Muhammad.

Apakah dengan pelantikannya sebagai Sultan, Muhammad menjadi gelap mata dan melupakan cita citanya untuk menaklukkan Konstantinopel? tentu saja tidak. Tak tanggung tanggung , Sultan Mehmed lalu membangun sebuah Benteng Rumeli Hisari [Hisari : Benteng]. Pembangunannya hanya berlangsur berkisar 4 bulan. Waktu yang sangat singkat untuk membuat sebuah benteng sebesar Rumeli Hisari.

Hal ini membuat kaisar Konstantin marah. Karena sebelumnya, mereka telah membuat perjanjian damai, yang menurutnya sama sama menguntungkan. Kaisar lalu mengirimkan sebuah surat yang isinya adalah protesan tentang apa yang telah dilakukan Sultan Mehmed. Namun, Sultan Mehmed, menjawabnya dengan jawaban yang mengerikan. Hal ini juga membuat Kaisar Konstantin menjadi marah, dan ada perasaan takut dalam dirinya.

Setelah sukses membuat benteng, Sultan Mehmed lalu membuat sebuah meriam super besar yang belum pernah ada sebelumnya. Meriam ini bernama Meriam Orban, karena pembuat meriam ini adalah seorang pengrajin meriam bernama Orban. Sebelumnya, Orban telah membuat kurang lebih 49 buah meriam. Setelah rampung, dengan diam-diam, Sultan Mehmed bergerak dengan pasukan yang telah disiapkan oleh ayahnya. Pasukan Utsmani terus bergerak, tanpa kenal lelah. Kaisar Konstantin tidak mengetahui pergerakan pasukan Sultan Mehmed. Seketika darahnya mendidih karena marah dan merasa kalah. Bagaimana mungkin, sebagai Kaisar, dia tidak mengetahui pergerakan pasukan Utsmani?

"Segera siapkan pasukan terbaik kita. Aku tak mau ada yang berbuat kesalahan. Kita harus menang. Cepat! Sebelum orang-orang bar bar itu menginjakkan kaki di wilayahku!" Teriak Kaisar Konstantin kepada salah satu komandannya.

"Baik, Yang Mulia." Jawab komandan pasukan.

Pasukan jihad Sultan Mehmed disambut oleh benteng besar nan arogan yang berdiri tegak seolah berkata bahwa tiada yang dapat mengalahkannya. Namun, pasukan jihad Janis sari [Pasukan jihad Turki Utsmani] tidak gentar dengan kegagahan dan keangkuhan benteng tersebut.

"Mari berpegang teguh pada satu keyakinan, yang tak ada perselisihan diantara aku dan kamu, yaitu kalimat persaksian, kalimat syahadat. Sudah menjadi kewajiban kami mendakwahkan Islam seluas luasnya agar dunia menjadi terang oleh cahaya Islam. Itulah yang diajarkan Islam kepada kami." Kata Sultan Mehmed di hadapan Kaisar Konstantin.

"Cukup! Hentikan ocehanmu itu, anak kecil. Siapapun yang mengantarkan nyawanya kesini, berarti dia sudah tidak menyayangi nyawanya. Dan aku tidak menjamin bahwa dia akan bisa keluar dari benteng ini hidup hidup!" Jawab Kaisar Konstantin.

Akhirnya, kedua pemimpin tersebut kembali ke posisi masing-masing. Angin bertiup lembut, membagikan kesejukannya. Sultan mengarahkan tangannya ke langit, mengisyaratkan agar pasukan pemanah melepaskan anak panahnya.

Saat tangan Sultan mengepal, ribuan anak panah melayang diangkasa dan mengarah ke Konstantinopel. Bagaikan hujan anak panah yang tak dapat dibendung.

"Semuanya, berlindung di balik tameng kalian!" Perintah Kaisar Konstantin.

Namun, tameng bukanlah sebuah rumah. Tameng tak sekokoh bangunan. Tetap saja masih ada pasukan yang terkena anak panah kaum muslimin.

"Aakh... dasar sial!" Amuk Kaisar Konstantin.

Pasukan muslim adalah pasukan yang lincah. Setelah mereka menghujani pasukan Konstantin dengan ribuan anak panah, mulailah meriam dikeluarkan.

"Tembak!" Perintah Sultan Mehmed diatas kudanya.

Seketika sebuah peluru meluncur keluar dari dalam meriam. Bagai bola yang dilempar dan dipermainkan oleh anak kecil. Saat menyentuh tembok nan kokoh tersebut, tembok berlubang kecil dan terdengar suara dentuman yang dahsyat.

Suara dentuman meriam tersebut disusul dengan dentuman genderang perang, dan pekik takbir dari pasukan jihad Janissari.

Saat pasukan Konstantin tahu, apa yang terjadi pada tembok Konstantinopel yang kokoh itu, mereka panik, dan segera menutupi lubang yang tidak terlalu besar itu dengan bebatuan.

Suara dentuman peluru terdengar hingga jantung kota Konstantinopel. Membuat warga yang mendengarnya terkejut. Mereka segera berlarian untuk menyelamatkan diri.

Pasukan Janissari terus merangsek maju hingga dapat menaiki tembok. Namun sayangnya, penjaga diatas tembok, menghujani pasukan yang naik dengan minyak panas. Tanpa diduga, pasukan Konstantinopel telah menyiapkan bola api yang membara, yang lalu dilemparkan ke arah pasukan Jihad Muhammad Al Fatih, atas perintah dari Kaisar.

Hal tersebut membuat pasukan muslim kalah total, lantaran api yang panas dan membumbung tinggi menghalangi langkah dan pandangan mereka.

Untuk menghindari korban berjatuhan lebih banyak, Sultan Mehmed memerintahkan pasukannya untuk mundur. Sehingga kemenangan berada dipihak Konstantinopel.

*****

Di tenda Sultan.

Sultan sedang merencanakan taktik perang bersama para komandannya.

"Pasukan kita sudah mulai ada yang mengeluh, karena hari ini kita harus mengalami kekalahan telak. Apa yang harus kita lakukan, Sultan?" Tanya komandan Hassan.

"Sudah kubilang padamu, Sultan, bahwa mimpi menaklukkan sebuah benteng dengan pertahanan yang super kuat akan menjadi sebuah mimpi disiang bolong. Apakah Kau ingin mengorbankan pasukanmu karena kepentingan pribadimu, untuk kedua kalinya, Sultan? " Tanya Wazir Agung Halil Pasha, yang memang berniat menentang kepemimpinan Sultan Mehmed.

"Tidak, Halil. Apakah Kau pikir menaklukkan benteng Konstantinopel, sebagai bisyarah dari Rasulullah adalah mimpi yangsia-sia?" tanya Zaghanos Pasha.

"Bukan itu maksudku! Apakah Sultan akan mengorbankan pasukan dan rakyatnya demi ambisi pribadinya?!" Tanya Wazir Agung Halil Pasha.

"Menaklukkan Konstantinopel bukanlah ambisi pribadi Sultan. Itu adalah bisyarah! Bisyarah! Leluhur kita telah berusaha, dan itu juga cita-cita kesultanan Turki Utsmani!" Jawab Zaghanosh Pasha.

"Apakah kita harus menyaksikan banyak komandan dan prajurit terbaik kita syahid?!" Tanya wazir agung Halil Pasha lagi.

"Zaghanosh, Halil, cukup! Berhenti berdebat dihadapanku! Jika musuh mengetahui hal ini, maka kita akan kalah total! Mereka akan mengambil kesempatan ini, untuk mengahancurkan kita. Kita tak seharusnya berdebat saat ini. Kita harus menemukan cara agar bisa menaklukkan Konstantinopel." Kata Sultan menengahi.

"Memang benar, Konstantinopel adalah sebuah benteng dengan pertahanan yang luar biasa. Tapi, bukan berarti aku akan menyerah pada keadaan. Konstantinopel bukanlah ambisi pribadiku. Itu adalah janji Allah dan Rasulullah. Allah dan Rasul tidak mungkin ingkar janji. Kita harus berusaha, untuk meraih kemuliaan menjadi pasukan terbaik sepanjang zaman."

"Menaklukkan Konstantinopel, bukanlah mimpi yang sia sia. Ayahku telah mengamanahkan kepadaku pasukan jihad dengan kemampuan yang luar biasa. Aku tak mungkin mengorbankan mereka hanya karena ambisiku."

"Komandan Hassan, Zaghanosh, Radu, Ishaq, besok tolong carikan rencana lain. Kita tidak akan menyerah sampai tetes darah penghabisan. Kalian mengerti?"

"Mengerti, Sultan."

****

Konstantinopel.

Terlihat Kaisar dan para komandannya sedang duduk mengelilingi meja makan, dengan makanan dan minuman yang melimpah ruah. Ditangan mereka, tergenggam sebuah gelas yang terbuat dari emas berisikan minuman anggur. Mereka jelas sedang merayakan kemenangan mereka atas pasukan jihad Kaum Muslimin.

"Semoga mereka jera dengan kekalahan mereka hari ini. Kalau tidak, mereka akan keluar dari wilayah ini hanya dengan kepala saja."

"Anda benar Yang Mulia, orang-orang Turki itu memang sudah sepantasnya mendapatkan itu." Kata salah seorang Prajuritnya.

"Untuk sementara, kita tak perlu pusing memikirkan mereka. Kita rayakan saja kemenangan kita sekarang." Ujar Kaisar dengan dada dibusungkan.

Lalu melanjutkan pesta kemenangan mereka.

****

Malam sudah pekat. Ditendanya, Sultan Mehmed berdiri tegak untuk mendirikan shalat malam [Shalat malam : Shalat Tahajjud ]. Sejak kecil, Sultan Mehmed tidak pernah meninggalkan shalat wajib, rawatib dan shalat sunnah lainnya. Sultan mengakhiri shalatnya dengan menengok ke kanan dan ke kiri, sambil mengucapkan salam. Setelah itu, beliau mengangkat kedua tangannya dan mulai berdoa kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Sultan berdoa agar diberikan kelancaran dalam menaklukkan Konstantinopel serta diberikan kemenangan. Selesai berdoa, Sultan menutupnya dengan bacaan: "Amiin yaa rabbal alamiin...".

Sementara itu, sebagian besar pasukan Janissari sudah tertidur. Sebagian yang lain ada yang tetap terjaga, dan menghabiskan malam dengan membaca Al Quran, shalat malam atau berdoa.

Di salah satu tenda, para komandan sedang membicarakan rencana penyerangan yang berikutnya. Kapal-kapal diperkuat, penggalian bawah tanah di berlangsungkan, meriam-meriam diperbaiki dan strategi lainnya. Taklupa, mereka juga merencanakan strategi penyerangannya.

*****

Keesokan harinya, peperangan dimulai kembali. Kedua belah pihak telah bersiap untuk menumbangkan musuh. Genderang perang kembali ditabuh, menggetarkan semesta, membuat nyali pasukan musuh ciut.

"Allahu Akbar!" Teriakan takbir yang dilontarkanoleh pasukan jihad kaum muslimin adalah senjata terampuh dalam menggetarkan musuh. Udara seolah menakuti mereka yang mendengarnya.

Pasukan darat sudah menyerang di garis depan. Angkatan laut dengan kapal Utsmani sudah mengalami kekalahan, lantaran rantai besi yang menghalangi selat Tanduk Emas. Para penggali juga sudah kalah, karena pasukan musuh terus menembaki mereka dengan meriam. Kini, pasukan darat sedang berjuang mati-matian untuk menaklukkan Konstantinopel, demi janji Allah, dan bisyarah Rasulullah.

Anak panah beterbangan di udara, bercampur dengan debu yang dihasilkan oleh kaki kuda dan kaki-kaki pasukan. Mereka yang berhasil naik kembali diguyur dengan minyak panas. Meriam sudah banyak yang meledak, karena terlalu panas.

Api pun mulai menjalar, dan kemenangan kembali diraih oleh pasukan Konstantinopel.

***

Kini, keadaan di pihak muslim menjadi kacau, lantaran kekalahan yang berturut turut.

Di salah satu tenda, para komandan sedang berkumpul. Namun tanpa kehadiran Sultan Mehmed. Mereka sedang membahas tentang kekalahan beruntun yang dirasakan oleh pasukan jihad Turki Utsmani.

"Sultan Mehmed entah mengapa tak keluar dari tendanya." Kata Komandan Hassan.

"Aku khawatir sesuatu terjadi padanya." Lanjut Zaghanosh Pasha.

"Sultan mengurung diri di tendanya karena kekalahan yang diterima oleh kita." Kata Wazir Agung Halil Pasha.

"Bukankah sudah kubilang, mimpi menaklukkan Konstantinopel adalah mimpi di siang bolong yang sia-sia. Andai saja kita tidak kemari, tentu saja hal ini tidak akan terjadi pada kita. Sekarang, kita harus menerima kenyataan bahwa kita sudah kalah dan kita kehilangan banyak syuhada. Kita rugi besar."

"Aku sudah mengingatkan kepada Sultan untuk tidak mengorbankan rakyat dan pasukannya. Tapi dia bersikeras, dan inilah akibatnya!" Bentak Wazir Agung Halil Phasa.

"Apa yang Kau bicarakan, wahai Halil? Apakah Kau masih tak mengerti juga? Kita tidak akan menyerah. Kita pasti ditolong oleh Allah, karena niat kita adalah mewujudkan bisyarah Rasulullah." Jawab Zaghanosh Pasha.

"Apakah Kau juga tak tahu, bahwa Kita sudah kehilangan banyak syuhada? Mereka adalah ksatria terbaik kita!" Sergah Halil Pasha.

"Ingat ! Mereka adalah syuhada. Mereka tak gentar dengan kematian. Mereka adalah ksatria yang ikhlas mengorbankan harta benda, jiwa raga dan nyawa mereka untuk Allah dan agama Islam yang mulia ini. Mereka tak takut mati!" Ujar Zaghanos Pasha.

"Kau..."

"Sudahlah, jangan bertengkar. Seharusnya kita memikirkan rencana kita, bukan berdebat!" Lerai Komandan Hassan dan RaduBey.

"Kita berani menginjakkan kaki di sini, karena janji Allah dan Rasulnya. Kita pasti ditolong Allah. Tapi, kita harus berusaha dan tidak boleh menyerah begitu saja. Orang yang pengecut adalah orang yang lari dari kematian. Sedangkan kita, orang-orang yang bertaqwa, tidak gentar dengan izrail [maksudnya kematian]. Kita harus berikhtiar, dan bertawakkal." Kata Komandan Hassan.

**

Dalam tendanya, Sultan sedang duduk dengan gelisah, sembari memikirkan rencana yang akan dipakai lagi untuk menaklukkan benteng arogan itu.

Sultan termenung, dan hanyut pada lamunannya. Terkadang, Sultan bergumam, " Allah, rencana apa lagi yang harus kulakukan?"

Untuk menenangkan pikiran dan hatinya, Sultan membaca Quran, bershalawat, mengerjakan shalat dan ibadah-ibadah lainnya untuk bertaqarrub kepada Allah. Doa yang terbaik terus dipanjatkan kepada Allah Yang Maha Kuasa.

*****

Malam telah datang menggantikan siang yang penuh dengan cahaya, kegelapan menyelimuti cakrawala, menyebarkan angin kantuk kepada manusia.

Di perkemahan pasukan jihad kaum muslimin, pasukan berjalan hilir mudik. Di salah satu bagian, berdiri beberapa orang yang menghadap pada satu arah, melihat salah seorang dari mereka berbicara dengan lantang.

"Apakah kita hanya akan tinggal diam, sementara tembok besar itu belum takluk? Apakah Sultan sudah lupa pada tujuannya datang kemari? Jika demikian, sebaiknya kita menyerah saja dan pergi dari sini, sebelum sesuatu yang buruk datang menghampiri kita!" Kata orang yang berdiri didepan.

"Ya, Kau benar."

"Sebaiknya kita pergi menemui Sultan dan menyatakan pendapat kita padanya. Jika tidak, Kita akan berada pada situasi yang gawat."

"Ya, Kau benar."

Tiba tiba, datanglah Komandan Hassan. Lalu berkata kepada pasukan.

"Tak perlu Kita menyerah pada orang-orang yang ada di balik tembok itu. Dan Sultan tidak lupa pada cita-citanya. Sultan sedang mengurung diri untuk mencari solusi dari apa yang sedang kita hadapi sekarang. Bersabarlah, dan persiapkan diri kalian sebaik mungkin. Sampai kapan pun kita tidak akan pernah menyerah kepada mereka!"

"Baik Komandan..." seru pasukan serentak.

(Bersambung)

YOUR REACTION?

Facebook Conversations