Oleh: Ainul Mizan*
Entah apakah yang dirasakan orang lain setiap kali memasuki gerbang Rabiul Awal. Apakah sama dengan dirasakannya?

Ataukah justru ia saja yang merasa ke-ge-eran sudah memenuhi hatinya dengan rasa cinta pada Sang Idola? 

Sampai saat ini, jawaban dari kegundahannya tersebut masih sebuah misteri hingga pada suatu ketika.

"Kang, besok malam ada peringatan Maulid Nabi besar - besaran di alun - alun kota?", dengan semangatnya Suherman menginfokan pada temannya, Ari. 

"Emangnya jam berapa acaranya?", tanya Ari penasaran. 

"Bakda isya. Jadi kita bisa sholat Isya di masjid alun - alun", tambah Suherman memberi alibi. 

Sebenarnya Ari agak malas diajak menghadiri acara seperti itu. Ujung - ujungnya selesainya sampai larut malam. Kerapkali dijumpainya kalau habis acara malamnya, Suherman pasti bangun tidurnya kesiangan. 

"Lho, kalau kesiangan Sholat Subuhnya jadi terbang dong...?" ujar Toni salah satu pengurus Remas di kampung mereka. 

"Ndak tahu juga kalau dia mengqodho sholatnya", Ari agak ragu jika Suherman melakukannya. 

"Alasannya apa ya kok sampe segitunya di seremonialnya?" tanya Toni. 

"Baginya mencintai Nabi itu ditunjukkan dengan begadang semalaman di hari Maulid Nabi"; jawab Ari. 

"Padahal di dalam acara Maulid itu ada pengajiannya", sambung Ari.

"Membahas apa?", tanya Toni. Memang sih Toni itu tidak pernah ikut pengajian Maulid di alun - alun kota. Ya wajar saja sih, di masjid kampung juga ada peringatan Maulid Nabi. 

Malam itu mereka berdua memiliki rencana untuk memberikan efek kesadaran agar Suherman tidak lagi hanya mementingkan seremonial peringatan Maulid Nabi. Di sisi lain, ajaran beliau Saw tidak dihiraukan. 

Bahkan Suherman mau untuk bersusah payah mengeluarkan biaya untuk sekedar membayar angkot guna transportasi menuju lokasi acara. Keikhlasan yang luar biasa.

Tepat sesuai dengan rencana. Hari itu, Suherman akan mendapat teror berupa chatting wa yang masuk ke nomornya. Chatting wa tersebut mengancam bahwa Suherman adalah lelaki yang tidak bertanggung jawab. Katanya cinta tapi menelantarkan. 



YOUR REACTION?

Facebook Conversations