Oleh : Syahida Amalina A'la
Kelas 6 SDIT Insantama Bogor
Seri Muhammad Al Fatih (Bagian 1)

Di sebuah ruangan istana yang megah, seorang lelaki sedang membaca mushaf Al-Quran. Lantunan indah keluar dari lisannya.

Bacaannya terhenti saat dia membaca surat Al Fath ayat 1."Sesungguhnya kami telah memberimu kemenangan yang nyata."

Manakala seorang pelayan memberikan kabar. 

"Sultan, Hema Hatun telah melahirkan putra anda." Kata pelayan tersebut.

 "Terimakasih". Jawab Sultan. 

Hatinya berdebar, manakala Sultan berjalan dikoridor istana. Hal tersebut dapat dilihat dari langkahnya yang berjalan cepat.

"Aku namakan putraku Mehmed [sebutan kata Muhammad dalam lidah orang Turki]." Kata Sultan.

Muhammad kecil tumbuh di lingkungan istana. Maka, Muhammad kecil tumbuh menjadi pribadi yang manja. Hal itu membuat para Ulama sulit untuk mendidiknya. Suatu hari, 2 orang Ulama besar mendatangi Sultan Murad ll.

"Bolehkah kami mendidik anak anda, Sultan?". Tanya keduanya.

"Tentu saja, aku akan sangat berterimakasih, bila kalian dapat mendidik putraku." Jawab Sultan.

Kedua Ulama besar itu adalah Syaikh Ahmad Alqurani dan Syaikh Aaq Syamsuddin. Melalui kedua ulama tersebut, tumbuhlah Muhammad menjadi seorang anak yang cerdas.

Pada saat berusia 8 tahun, dia telah mampu menghafal seluruh isi Al-Quran dan menguasai 9 bahasa.

******

Sore itu, angin sepoi-sepoi berhembus dengan lembut. Memberikan kesejukan bagi yang merasakannya. Syaikh Aaq Syamsuddin mengajak Muhammad menuju tepi sungai, dan menunjuk ke arah menara gereja di kejauhan.

"Nak, apakah kau tahu apa itu?", Tanya Syaikh.

"Ya, itu adalah menara Hagia Sofia, di Konstantinopel.", jawab Muhammad.

"Kau benar, Nak. Leluhur kita dahulu telah berusaha mengorbankan segenap jiwa raga mereka demi menaklukkannya, karena itu adalah bisyarah [kabar gembira] dari Rasulullah SAW. Leluhurmu, kakek buyutmu,kakekmu, dan ayahmu telah berusaha menaklukkannya, dan mereka tidak berhasil. Bahkan mungkin, kelak putramu juga tidak akan berhasil, karena aku yakin, sang penakluk itu adalah kau, Nak." Ujar Syaikh.

"Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah yang menaklukkannya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukannya'."

Muhammad kecil terkesima. Lembayung sore yang berwarna keemasan dan bayangannya memantul di atas beningnya air sungai, seolah turut merasakan apa yang dirasakan Muhammad. Dalam hatinya, dia bertekad untuk membuktikan janji Rasulullah tersebut. Lembayung sore adalah saksinya.

****

"Aku serahkan tahta dan kepemimpinanku sebagai Sultan, kepada putraku, Mehmed."

Suara Sultan mengejutkan semua yang hadir diruangan.

"Mengapa begitu Sultan? Bukankah Mehmed masih belia. Usianya baru menginjak 12 tahun. Apakah dia pantas?". Tanya Lala Halil Pasha [Lala : sebutan Wazir Agung di Turki ].

"Ya." Jawab Sultan.

Maka dimulailah pelantikan tersebut. Pedang leluhur Kesultanan Ustmani, Usman Ghazi, disarungkan di pinggang Muhammad. Sorban berwarna putih yang terbuat dari kain kafan bertengger di ubun-ubun Muhammad. Kini, dia resmi menjadi Sultan Turki Ustmani.

****

"Zaghanosh, Aku hendak mempelajari tembok Konstantinopel, agar bisa mengerti struktur temboknya, yang kelak akan berguna saat penaklukkan. Kita akan menyamar dan aku ingin Kau ikut denganku." Kata Sultan Mehmed.

"Sesuai yang kau inginkan Sultan."

Jawab sahabatnya, Zaghanosh Pasha.

Tiba di depan tembok nan megah Konstantinopel, Sultan Mehmed meletakkan telapak tangannya dengan sedikit keras dan kemudian berujar.

"Tunggulah, Konstantin, aku akan datang dengan membawa para Ghazi untuk menaklukkanmu, dan membuktikan janji Allah dan Rasulku..."

Selesai dengan urusannya di Konstantinopel, Sultan Mehmed dan sahabatnya, Zaghanosh Pasha segera melangkahkan kaki keluar dari area Konstantinopel, guna menghindari kemungkinan tentara mengenali mereka.

Tiba di istana, bukan sambutan yang diterima Sultan, melainkan amukan marah dari Wazir AGung Halil Pasha.

"Apa yang telah Anda lakukan Sultan? Sungguh, Anda telah mengacaukan urusan kenegaraan. Dengan perginya Sultan ke Konstantinopel, akan membahayakan diri Anda, dan rakyat Anda. Apa jadinya jika Anda tertangkap oleh para tentara di Konstantinopel? Rakyat tidak akan ada yang memimpin, dan membuat situasi menjadi kacau balau tak terkendali. Apakah Sultan akan bertanggung jawab ?". Tanya Halil Pasha.

"Apakah Sultan memperhitungkan konsekuensi dari tindakan yang diambil Sultan? Apakah Sultan..." Wazir Agung terus berargumen.

"Cukup, Halil! Setidaknya Kita mengetahui apa tujuan Sultan melakukan hal tersebut." Kata Sultan Murad.

"Mehmed, beri tahu Kami, apa yang membuatmu melakukan tindak tersebut?" Ujar Sultan Murad kemudian.

"Ayah, Syaikh berkata, bahwa menaklukkan Konstantinopel adalah bisyarah yang dicita citakan oleh para pendahulu kita. Aku ingin menaklukkan benteng tersebut. Aku yakin, Kau pasti telah menyiapkan diriku untuk cita cita ini, Ayah. Aku akan melakukan apapun yang bisa Aku lakukan untuk menaklukkan tembok arogan itu, apapun konsekuensinya..."

"Apakah Kau mengorbankan rakyatmu, dengan begitu,Mehmed?" Tanya Sultan Murad.

"Ya, Kau benar. Menaklukkan Konstantinopel adalah cita-cita kita semua. Aku memang telah menyiapkan dirimu untuk ini, Mehmed. Tapi, harus kau akui, Lala pun benar." Ujar Sultan Murad.

"Dengan begitu, tahta Sultan yang diberikan kepada Sultan Mehmed dikembalikan lagi kepada Ayahnya, yang mulia Sultan Muradll." Kata Halil Pasha.

Kata-kata itu membuat hati Sultan Mehmed hancur. Dia hanya ingin mempelajari ketebalan tembok Konstantinopel, demi cita-citanya menaklukkan Konstantinopel, yang telah menjadi janji dan kabar gembira dari Rasulullah S.A.W.

Di hadapan seluruh pejabat istana, Muhammad kembali menyerahkan pedang leluhur dan sorbannya kepada ayahnya, dengan hati yang pilu.

Malam tiba, kegelapan menyelimuti cakrawala. Sultan Murad berjalan menuju tempat putra bungsunya. Dia tahu hati putranya hancur, tapi dia juga sadar, apa yang dilakukan putranya tidak benar. 

"Assalamualaikum, Mehmed"

"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Sultan..." Jawab Muhammad.

"Ayah tahu, kau sedang bersedih. Tapi Ayah juga tahu, bahwa apa yang telah dikatakan Wazir Agung Halil Pasha itu benar. Konstantinopel adalah sebuah bisyarah, yang di cita-citakan oleh kita. Almarhum kakakmu, ingin agar kau menaklukkan benteng tersebut. Ayah telah menyiapkan sesuatu yang kelak akan berguna untuk dirimu."

"Baik, Sultan."

"Sekarang, kemaslah barang-barangmu, kita akan berangkat sebentar lagi, Insya Allah."

Sultan Murad lalu melangkahkan kaki keluar dari ruangan. Sementara itu, Mehmed sedang berkemas, untuk pergi ke Edirne. Di sana, ia akan belajar lebih mendalam tentang kepemimpinan.

****

"Sehzade [Pangeran], ada sebuah surat untukmu,"

" Dari siapa?."

"Wazir Agung Halil Pasha."

" Baiklah, terimakasih,"

Dibukanya gulungan kertas tersebut. Seketika, raut wajahnya berubah. Lemas genggaman tangannya, mengetahui berita tersebut.

"Apa isinya, Sehzade? " Tanya Zaghanosh Pasha.

"Ayahku, Sultan Murad ll telah berpulang keRahmatullah..." Jawab Sehzade.

"innalillahi Wainna ilaihi raajiun..."

(Bersambung)

 ***

Referensi :

1. Komik Muhammad Al Fatih, Handri Satria & SyaifMuhammad Isa

2. Film 'Fetih 1453'

3. Ceramah Ustadz Felix Siauw

4. Trailer Film 'Muhammad Fetihi'

5. Muhammad Al Fatih, Ustadz Budi Ashari, Channel InspiraStudio

Syahida Amalina A'la , Kelas 6 SDIT Insantama Bogor

Syahida Amalina A'la , Kelas 6 SDIT Insantama Bogor

YOUR REACTION?

Facebook Conversations