Oleh: Abun Nada
Dalam kitab Manhaj Tarbiyah Nabawiyah Liththifl, karya Syaikh Muhammad Nur bin Abdul Hafidz, bakti kepada orang tua dianggap sebagai salah satu pilar penting pendidikan anak.

Uniknya, bukan bakti anak kepada kita yang dibahas. Tapi justru bakti kita kepada orang tua kita.

Ternyata, bakti kita kepada orang tua memiliki pengaruh besar dalam menumbuhkan bakti anak kepada kita. Itulah kenapa, jika kita berharap punya anak yang berbakti pada orang tua, sudah semestinya kita--baik jomblo maupun yang sudah menikah--bersegera untuk berbakti kepada orang tua. Sebagaimana pesan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Berbaktilah pada orang tua kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbakti pada kalian." (HR. Tabrani dalam Manhaj Tarbiyah hal. 145)

Bakti kepada orang tua merupakan amalan yang agung. Ia wajib atas setiap insan. Bukan sekadar sunnah, apalagi suka rela. Pernah seseorang mendatangi Nabi lalu bertanya: "Wahai Rasulullah, apa hak kedua orang tua atas anak-anak mereka?" Rasul menjawab, "Keduanya surgamu, juga nerakamu." (HR. Ibnu Majah).

Bahkan, Rasul menjelaskan, "Ridha Allah ada pada ridha kedua orang tua. Murka Allah, ada pada murka kedua orang tua." (HR. Ibnu Hiban dan Al Hakim)

Begitu tinggi kedudukan orang tua dalam syariat Islam, sampai-sampai sebelum pergi berjihad, seorang anak harus minta restu keduanya terlebih dulu. Pernah ada seorang lelaki mendatangi Rasul, lalu berkata: “Saya berbaiat pada engkau atas hijrah dan jihad, saya berharap balasan dari Allah Ta’ala. Rasul bertanya: ”Apakah salah satu dari kedua orang tuamu masih hidup?” Lelaki itu menjawab: Iya, bahkan keduanya masih hidup. Rasul bertanya lagi: “Engkau berharap pahala dari Allah Ta’ala?” Lelaki itu menjawab: Benar. Rasul bersabda: “Kembalilah pada kedua orang tuamu. lalu perbagus hubunganmu dengan keduanya.” (HR. Bukhari Muslim).

Pembahasan seperti ini bukan lantas mengecilkan keutamaan jihad. Masing-masing ada porsi dan tempatnya. Dalam konteks pendidikan, bakti anak pada orang tua punya kedudukan tinggi. Ini perlu kita telaah. Sebab, dunia pendidikan modern tampaknya belum menganggapnya sebagai pilar penting. Sedikit demi sedikit, mari kita kembali pada metode pendidikan Nabi.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations