Oleh: Dini Handayani
Kami menunggu jawaban dokter dengan cemas. Kemudian dokter mempersilahkan kami semua untuk masuk ke kamar Abril.

Terlihat Abril telah dipasang kembali beberapa alat ditubuhnya. Hatiku kembali bagaikan diiris-iris. Tidak tega melihat tubuhnya yang rapuh dan terbaring tak berdaya. Detak jantung Abril pun tidak stabil seperti kemarin. Napasnya sesak dan satu-satu, seolah ada beban berat menindih dadanya yang menyebabkan dia susah bernapas. 

Ayahnya mendekati Abril, kemudian dia membisikkan kalimat talqin Lailahaillah ditelinga Abril. Aku tak mampu melihat itu semua, aku tidak rela, kenapa ayahnya harus membisikkan kalimat talqin ditelinga Abril, memangnya Abril mau meninggal. Ingin rasanya aku menarik ayahnya untuk menjauhi Abril. 

Ingin kuusir semua yang ada di ruangan ini, biarkan aku dan Abril saja  berdua disini. Akan kujaga Abril sebaik mungkin. Biar aku saja yang berbisik ditelinga Abril. Tapi takkan kuucapkan kalimat-kalimat talqin ditelinganya. Akan aku bisikkan kata-kata cinta dan rinduku kepadanya. Serta harapanku untuk dapat hidup bersamanya. 

BACA JUGA:


Aku ingin Abril kembali sehat, biarkan Abril bersamaku, aku ingin hidup bahagia bersamanya. Aku sungguh sangat mencintainya. Sangat dan sangat mencintainya. Tak dapat kutahan, air mataku mengucur deras, dadakupun terasa ikut sesak. Kalau bisa ingin kugantikan tempat Abril, biar aku saja yang merasakan sakit. Jangan Abril, aku tidak kuasa melihatnya menderita. 

Sekitar sepuluh menit kami semua di dalam kamar Abril dengan suasana tegang dan cemas. Tiba-tiba detak jantung abril menghilang. Aku terkejut dan berteriak memanggil dokter yang dengan segera mengambil alat bantu untuk memacu jantung Abril satu kali, tubuh abril melengkung ke atas, namun jantung itu tetap tidak berdetak, sampai tiga kali dokter mengulanginya, namun tanda-tanda abril hidup tidak ada. 

Kita semua telah berusaha. Abril tak dapat tertolong. Tubuhku ambruk tanpa sadar aku menangis. Wanita yang sangat kucintai, dan kuharapkan. Aku menaruh seluruh hatiku padanya. Namun dia telah tega meninggalkan aku. Separuh nyawaku serasa ikut bersamanya. Aku tak mampu berbuat apa-apa, tubuhku lemas dan aku hanya mampu memanggil namanya. Allah sungguh kejam memisahkan kami.



YOUR REACTION?

Facebook Conversations