Sebuah sungai di dekat perbatasan antar Korea berubah menjadi merah akibat darah puluhan ribu babi yang disembelih. Seoul tengah berupaya untuk membatasi penyebaran demam babi Afrika.
Gambar: liputan6

Korea Selatan telah memusnahkan sekitar 380 ribu babi sejak kasus pertama penyakit tersebut, yang tidak berbahaya bagi manusia tetapi menular pada babi, seperti yang dilaporkan pada bulan September lalu.

Kasus demam babi hampir selalu berakibat fatal dan tidak ada obat penawar atau vaksin, satu-satunya cara yang diketahui untuk mencegah penyebaran penyakitnya adalah dengan pemusnahan massal hewan tersebut.

Sebuah LSM setempat mengatakan bahwa hujan lebat pekan lalu menyebabkan darah dari situs pemakaman dekat perbatasan antar-Korea yaitu tempat sekitar 47.000 bangkai babi ditumpuk meresap ke Sungai Imjin pada hari Ahad, membuat sebagian aliran sungai menjadi merah.

BACA JUGA:

"Itu membuat banyak orang yang tinggal di daerah itu cemas dan khawatir," kata Lee Seok-woo, yang mengepalai LSM Jaringan Masyarakat Sungai Yeoncheon Imjin, kepada AFP.

"Yang juga sulit ditahan adalah baunya. Saya mendengar banyak petani tidak bisa bekerja karena baunya yang tak tertahankan. Ini seharusnya tidak terjadi," imbuhnya seperti dilansir dari Channel News Asia, Rabu (13/11/2019).

Kementerian Lingkungan Seoul merilis pernyataan yang mengatakan darah dari bangkai babi yang mengalir ke sungai sekarang telah ditangani dengan benar menggunakan pompa hisap dan perangkat lainnya, serta situasinya tidak mempengaruhi air keran di wilayah tersebut.

"Kami telah membangun bank dan fasilitas lain sehingga air yang tercemar tidak mengalir ke wilayah hilir," kata kementerian itu. "Sampai sekarang tidak ada darah di sungai," sambung pernyataan itu.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations