Oleh : Novida Balqis

Beberapa hari lalu ditengah tekanan yang dilakukan Israel terhadap Palestina, terjadi perubahan kepemimpinan yang membuat Israel sempat heboh.

Yaitu kepemimpinan Perdana Menteri Netanyahu digantikan oleh Naftali Bennet yang terpilih hanya berbeda 1 suara dengan Netanyahu. Banyak pendapat dari berbagai pemimpin dunia mengenai berubahnya jabatan Perdana Menteri di Israel.

Dilansir dari infografis.sindonews.com (15/06/2021), terdapat reaksi dari berbagai dunia dengan bergantinya jabatan Perdana Menteri Naftali Bennet, yaitu diantaranya pertama, dari pemimpin Amerika Serikat Joe Biden tetap berkomitmen untuk keamanan Israel. Kedua, dari pemimpin Palestina Mahmoud Abbas, yaitu tuntunan Palestina tetap sama. Ketiga, dari pemimpin Inggris Dominic Raab berharap melanjutkan kerjasama keamanan, perdagangan, dan perdamaian di kawasan. Keempat, dari pemimpin Austria Kanselir Sebastian Kurzber komitmen untuk Israel dan akan terus berdiri disisi Israel. Dan kelima, dari pemimpin Jerman Kanselir Angela Merkel berharap untuk bekerjasama dengan Perdana Menteri baru Israel.

Selain reaksi dari pemimpin berbagai negara, ada pula reaksi dari Hamas yang menyatakan dan menganggap bahwa Perdana Menteri baru Israel adalah Perdana Menteri dengan pemerintahan terlemah sepanjang sejarah.

Dikutip dari cnnindonesia.com (18/06/2021), perwakilan Hamas Khaled al-Qaddumi mengatakan bahwa Naftali Bennet hanya menguasai 7 kursi dari 120 anggota parlemen Knesset dan menurutnya pemerintahan Bennet takkan memberi perubahan terhadap Palestina dalam hal kedamaian antara Pelstina dan Israel.

Dari pernyataan beberapa tokoh diatas jelas menggambarkan bahwa takkan ada harapan pada pemerintahan Israel yang baru. Justru yang terjadi ada kemungkinan bertambah parahnya keadaan Palestina dengan kepemimpinan pemerintahan baru Israel. Karena tidak dipungkiri, sebelum Bennet menjabat sebagai Perdana Menteri ia selalu melontarkan kebenciannya terhadap Palestina.Pernyataan kontroversialnya selalu mengemukakan kebenciannya terhadap Palestina maupun bangsa Arab. Bahkan Palestina dianggap sebagai teroris termasuk anak-anak Palestina pun tak luput dari cap teroris.

Sehingga wajar jika perwakilan Hamas menyatakan bahwa takkan ada perubahan bagi Palestina terhadap pemerintahan baru Israel. Karena bagaimanapun, tujuan mereka semua sama yaitu ingin menguasai seluruh wilayah Palestina. Tak hanya itu, mereka ingin Masjid Al-Aqsa jatuh ditangan mereka. Mereka selalu merebut wilayah Palestina secara keji. Apapun caranya mereka gunakan asalkan dapat mengambil wilayah Palestina, memakai bom, senjata, rudal, roket, dan lain-lain digunakan. Bahkan merebut rumah-rumah warga Palestina secara paksa.

Ditengah kekejaman Israel terhadap Palestina, masih ada saja negara-negara yang mendukung Israel bahkan memberi bantuan senjata, dana, dan lainnya untuk merebut wilayah Palestina. Mereka terang-terangan mendukung penjajahan diatas tanah Palestina. Perdamaian dan keadilan yang selalu digaung-gaungkan, bahkan HAM yang selalu mereka ucapkan hanyalah omong kosong belaka. Sebab, perdamaian, kemanusiaan, dan HAM tidak berlaku ditanah Palestina. Mereka membenci teroris, akan tetapi mereka tak sadar, mereka sendirilah terorisnya. Mereka memberi cap teroris kepada Muslim, akan tetapi mereka tak mau dicap teroris dan penjajah. Padahal jelas-jelas penjajahan dan teroris mereka lakukan didepan mata mereka.

Anehnya, mereka menganggap Palestina kejam dan jahat karena tak mau memberi wilayah mereka kepada Israel. Padahal jelas, itu adalah wilayah Palestina bukan wilayah Israel. Sungguh, jika Palestina tidak memberikan sebagian wilayahnya kepada Israel, tentu takkan ada wilayah Israel hingga saat ini. Karena pada dasarnya Israel tak punya wilayah, hingga pada akhirnya mereka dapat tinggal di wilayah Palestina.

Lantas, apa yang dapat kita lakukan untuk Palestina? Palestina butuh bantuan dan penyelesaian dari akar masalah yang dihadapinya. Kita patut bersyukur atas banyaknya donasi dan bantuan yang mengalir untuk Palestina. Banyak pembelaan terhadap Palestina dan bantuan berupa sandang, pangan, danobat-obatan. Namun secara kenyataannya, belum ada bantuan langsung berupa pasukan yang langsung menghadapi Israel. Untuk saat ini, hanya Hamas yang mendukung penuh perjuangan warga Palestina dengan memberi serangan balik terhadap Israel.

Dan mirisnya, PBB sama sekali tidak memberikan solusi apapun terhadap penjajahan ditanah Palestina. Padahal PBB terdiri dari berbagai negara diseluruh dunia. Menghadapi wilayah Israel saja belum bisa terselesaikan. Tak hanya membiarkan, bahkan sama sekali tak memberikan solusi dan bantuan militer untuk membantu Palestina yang terjajah. Termasuk berbagai negara Muslim seakan enggan dan tak mampu mengirim tentara militer untuk membantu Palestina.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem pemerintahan saat ini yang diterapkan diseluruh wilayah dunia tidak dapat menjadi solusi atas apa yang menimpa Palestina. Palestina butuh bantuan yang solutif, tak sekedar tambal sulam, dan tak cukup hanya dengan bantuan sembako, sandang, dan obat-obatan meskipun itu cukup membantu. Palestina butuh bantuan untuk mengusir penjajahdari wilayah Palestina dan berhak untuk hidup damai dan tenang. Sedangkan saat ini tak ada satu negarapun bahkan organisasi dunia manapun yang dapat mengusirI srael dari wilayah Palestina. Justru penjajah mendapatkan dukungan penuh dari negara adidaya. Hal ini sungguh miris!

Sehingga solusinya adalah sistem pemerintahan yang berdasarkan Islam, yaitu penerapan sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Sistem Islam dalam naungan Khilafah merupakan solusi bagi seluruh umat Islam saat ini. Tidak hanya Palestina, akan tetapi wilayah Suriah, Yaman, Myanmar, Uighur, dan lain sebagainya dapat teratasi oleh sistem Islam. Khalifah (pemimpin dalam sistem Islam) akan membebaskan wilayah-wilayah Islam yang terjajah oleh orang kafir dan mengayomi umat Islam dengan pelayanan yang luar biasa.

Dalam sistem Islam, Khalifah akan mengirim pasukan militer untuk menyelamatkan umat Islam yang terjajah. Terbukti penerapan Islam selama 13 abad saat itu umat Islam mencapai masa keemasan dan kejayaan, serta menjadi negeri yang berdaulat. Tidak seperti saat ini, umat Islam terjajah secara fisik dan dikuasai pemikiran sekuler juga dijajah dari segala aspek seperti perekonomian, pendidikan, kebijakan politik, dan sebagainya. Sehingga tidak ada solusi lain selain penerapan sistem Islam secara keseluruhan dalam naungan Khilafah.

Wallahu A’lam

YOUR REACTION?

Facebook Conversations