Oleh: Zenny Irhamni
Mahasiswi UIN Bandung, Aktivis Back To Muslim Identity

Sudah beberapa dekade terlewati “konflik” antara Israel dan Palestina belum juga teratasi bahkan menjelang akhir Ramadhan lalu konflik tersebut justru kembali memanas hingga saat ini.

Pada Jumat (21/05/2021), 11 hari setelah agresi militer Israel atas Palestina terjadi dan memakan banyak korban baik di Palestina maupun Israel, memang akhirnya terjadi kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Palestina di Jalur Gaza. Namun sesuai dengan watak Israel yang selalu berkhianat, Israel kembali menyebarkan ketegangan dan penyerangan kepada Palestina yang saat itu baru saja merayakan “kemenangan”.

Tentu saja sedari awal ide gencatan senjata memang bukanlah akhir dalam agresi dan penjajahan Israel dan tidak seharusnya dipandang sebagai semacam kemenangan. Ide gencatan senjata justru seharusnya menjadi suatu episode pembelajaran bagi kaum muslim dan menyadarinya bukan sebagai solusi melainkan sebuah rencana yang penuh penghianatan.

Penghianatan tersebut terlihat jelas dari pemimpin-pemimpin sekuleris dunia Islam sendiri dan tentunya Barat dimana mereka ikut menyambut dengan baik ide ini. Salah satunya adalah Uni Emirat Arab (UEA) yang menyatakan siap memfasilitasi perdamaian Palestina-Israel. Sedangkan Organisasi Kerja samaIslam (OKI), Sabtu (22/5/2021) menyatakan bahwa untuk mencapai perdamaian abadi harus dengan dialog, solusi dua negara, dan resolusi PBB yang relevan. (aceh.tribunnews.com). Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa UEA dan negara Arab lainnya seperti Bahrain, Sudan, dan Maroko diketahui telah melakukan normalisasi diplomatik dengan Tel Aviv pada tahun 2020 lalu dan negara-negara tersebut juga menyetujui solusi dua negara untuk menjadi solusi bagi israel-palestina yang telah lama diadvokasikan Amerika. Inilah yang menjadi rencana politik Amerika untuk episode ini dimana AS berencana melakukan internasionalisasi Al-Quds dan memulihkan panggilan untuk ‘solusi dua negara’.

Apa yang dilakukan pemimpin negeri kaum muslim ini sungguh mengecewakan dan kado pahit bagi Palestina. Berbagai solusi yang diusulkan seperti gencatan senjata dan solusi dua negara tentu bukanlah akhir dari penjajahan Israel sehingga menjadikannya menyetujuinya sebagai solusi hanya menunjukkan lemahnya pembelaan mereka terhadap saudara muslim Palestina dan penghianatan yang nyata dengan membiarkan zionists berlindung dan memulihkan kekuatan di balik istilah gencatan senjata dan perdamaian. Padahal selama ini solusi yang bernuansa “perdamaian” itu sudah seringkali kita dengar keluar dari berbagai pemimpin dunia bahkan pemimpin negeri-negeri Islam. Namun pada kenyataanya solusi tersebut tidak pernah menghasilkan apa-apa selain kerugian yang terus-menerus menimpa Palestina. Demikianlah negeri-negeri kaum muslim hari ini begitu mudah diperalat dan lemah sehingga tidak mampu untuk mengirimkan tentara bantuan dalam rangka mengusir tentara Israel sebab mereka sendiripun telah terjajah oleh paham nasionalisme, aturan internasional, kepentingan politik dan berbagai kungkungan barat.

Berbagai solusi yang hari ini disuarakan Amerika, negeri-negeri kaum muslim beserta negara-negara anggota PBB sejatinya dibangun atas kepentingan untuk melanggengkan penjajahan atas Palestina dan adanya upaya penyesatan ummat dari solusi kemenangan yang sesungguhnya. Padahal di dalam Islam telah jelas, bahwa Israel di sebut negara muhariban fi’lan atau dengan Negara tersebut hanya ada hubungan perang. Maka terhadap Negara tersebut harus diperlakukan sikap dalam keadaan darurat perang sebagai dasar setiap perlakuan dan tindakan, baik terdapat gencatan senjata atau tidak (Nidhomul Islam, hal 194).

Harusnya umat Islam menyadari bahwa solusi yang hakiki untuk Palestina tidak lain adalah dengan Jihad dan Khilafah. Negeri-Negeri kaum muslim seluruhnya harus bersatu dan menyerukan solusi Jihad melalui tentara muslim untuk menghapus entitas Israel yang keberadaannya di tanah kaum muslim merupakan akar dari permasalahan yang terjadi atas Palestina. Umat Islam juga harus memiliki kekuatan politik di bawah satu kepemimpinan umum atau khilafah untuk membebaskan Palestina demi meraih kemenangan yang sesungguhnya sebab Khilafah adalah kekuatan dan pelindung bagi umat Islam. Khilafah juga yang nantinya melahirkan pemimpin yang commit untuk menjaga tanah Palestina dan wilayah Islam lainnya dari penjajahan dan perpecahan demi kemuliaan Islam.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations