Oleh : Ummu Hanif
Pengamat Sosial Dan Keluarga

Kekerasan terhadap Muslimah di Asia Tengah kembali menguak, kali ini terjadi di Kirgistan, negara tetangga Uzbekistan dan Kazakhstan yang dikenal dengan kedzalimannya akibat sisa-sisa pengaruh komunisme masa lalu.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Zarinam Turdieva, anggota Institute for Security & Development Policy dan lulusanPhD di Global and Regional Development dari Universitas Kyrgyz-Russian Slavicdi Kirgistan, dalam tulisannya yang berjudul ‘Bahaya “Islamofobia” di Kirgistan’, beliau menuliskan bahwa Islam memainkan peran yang semakin signifikan di Kirgistan sejak kemerdekaan dengan melonjaknya ketertarikan terhadapnya di antara penduduk Kirgistan dalam beberapa tahun terakhir. Karenanya, peran historis dan kontemporer Islam dinilai kembali dengan lebih baik oleh banyak orang, di samping pembangunan masjid-masjid dan penambahan lembaga dan pusat-pusat keagamaan Islam yang telah berkembang pesat. Kirgistan menjadi negara sekuler yang mewaspadai agama yang terorganisir, yang dilihatnya sebagai potensi ancaman bagi masyarakat..."

Menyimak kondisi politik Kirgistan, tentu sangat wajar akan menghantarkan islam dan kaum muslimin pada ketidakadilan. Sebagaimana yang dilansir www.muslimahnews.com, pada tanggal 24 Agustus 2020, bahwa pada tanggal 27 Juni 2020 telah terjadi penangkapan kepada beberapa muslimah yang sebagian besarnya adalah sosok ibu yang memiliki anak kecil (ada yang mengidap down syndrome) atau sedang merawat orang tua mereka yang sudah lanjut usia.

Salah satu dari mereka, Mamirkanova Amangul, diinterogasi selama beberapa jam saat dia merawat putranya (4 tahun) yang menderita down syndrome dan baru saja menjalani operasi jantung. Muslimah lainnya, Ajumudinova Almagul, beliau sedang merawat cucunya yang mengidap kelumpuhan otak pada hari penangkapannya. Akibat penahanannya, sang cucu mengalami kejang epilepsi. Mereka ditangkap karena dianggap meyebarkan islam dan paham khilafah.

Kalau kita amati realitas sejarah, kita akan menemukan bahwa Barat dan sekutunya berada dalam banyak manuver politik yang merugikan kaum muslimin. Mereka telah memainkan peran politik yang begitu kuat dalam mereduksi kemunculan Islam ideologis. Penjajahan militer plus kekejaman yang mereka lakukan pasca Perang Dunia I di negeri-negeri kaum Muslim seperti Aljazair, Sudan, Libya, adalah bukti bahwa pedang terhunus telah diacungkan ke mata umat islam sejak lama. Hanya orang pengidap ‘katarak politik’ kronis yang tak melihat realitas politik ini.

Hari ini, ketakutan Barat terhadap kebangkitan Islam ideologis tak jua surut, malah semakin menjadi. Manuver politik untuk menjegal kebangkitan Islam pun semakin gencar. Hanya aktor utamanya saja yang berganti. Dan mereka bekerjasama dengan penguasa negeri – negeri muslim yang bertindak sebagai kaki tangannya untuk memuluskan hegemoni mereka.

Sedih dan kecewa, sangat wajar kita rasakan. Karena kaum muslim sejatinya ibarat satu tubuh, bila satu bagian sakit, maka bagian yang lain ikut merasakan. Namun satu hal yang terus menjadi pertanyaan, ketikan kaum muslimin Kirgistan berada dalam ketidakadilan, akankah dunia tampil menyelesaikan? Akankah pula, pemimpin negeri – negeri muslim terketuk hatinya untuk ikut menyuarakan keadilan untuknya?

Sudah saatnya umat yang saat ini terpecah kekuatannya bersatu dibawah seorang pemimpin yang mencintai umatnya dengan kesholehan jiwa yang bisa membebaskan umat dari kesengsaraan dibawah kepemimpinan Islam yang Agung. Wallahu a’lam bi ash showab

YOUR REACTION?

Facebook Conversations