Dua mantan karyawan Twitter Inc dan orang ketiga asal Arab Saudi diadili di Amerika Serikat (AS) atas tuduhan menjadi mata-mata untuk Kerajaan Saudi. Menurut dokumen pengadilan, kedua mantan karyawan tersebut menggali data pengguna pribadi dan memberikannya kepada pejabat Riyadh dengan imbalan pembayaran uang.
Ilustrasi: Macleanes

Ali Alzabarah dan Ahmad Abouammo, yang dulu pernah bekerja untuk Twitter, dan seorang pria bernama Ahmed Almutairi menghadapi tuduhan bekerja untuk Kerajaan Arab Saudi tanpa mendaftar sebagai agen asing.

Menurut dokumen aduan di pengadilan, Abouammo berulang kali mengakses akun Twitter dari seorang kritikus terkemuka keluarga Kerajaan Saudi pada awal 2015. Dalam satu contoh, ia dapat melihat alamat email dan nomor telepon yang terkait dengan akun tersebut. Dia juga mengakses akun kedua pengkritik Saudi untuk mendapatkan informasi pribadi.

"Informasi ini bisa digunakan untuk mengidentifikasi dan menemukan pengguna Twitter yang mempublikasikan posting ini," kata Departemen Kehakiman dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Reuters, Kamis (7/11/2019).

Seperti diketahui Arab Saudi sekutu penting AS dalam menghadapi Iran telah menghadapi kritik keras Barat atas catatan hak asasi manusianya, termasuk soal pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi tahun lalu dan keterlibatannya dalam perang yang menghancurkan di Yaman.

Sedangkan Almutairi dituduh bertindak sebagai perantara bagi pemerintah Saudi dan karyawan Twitter. Menurut Departemen Kehakiman AS, Abouammo ditangkap di Seattle, Washington. Sedangkan dua orang lainnya berada di Arab Saudi.

BACA JUGA:

Abouammo diperintahkan untuk tetap berada di balik jeruji besi oleh hakim AS pada hari Rabu sambil menunggu sidang pemeriksaan penahanan untuk hari Jumat. Pihak Kantor Jaksa AS mengatakan di pengadilan bahwa Abouammo akan ditahan karena penundaan sidang pengadilan menimbulkan risiko serius.

Menurut dokumen aduan di pengadilan, kedua mantan karyawan Twitter diberikan uang tunai dan hadiah lain, seperti arloji mahal, untuk informasi yang mereka berikan. Kedutaan Arab Saudi di Washington belum bersedia menanggapi permintaan komentar yang diajukan wartawan.

Sedangkan pihak Twitter menyampaikan terima kasih kepada FBI dan Departemen Kehakiman AS. "Kami menyadari bahwa aktor-aktor jahat akan berusaha dan merusak layanan kami," katanya dalam sebuah pernyataan.

"Kami memahami risiko luar biasa yang dihadapi oleh banyak orang yang menggunakan Twitter untuk berbagi perspektif mereka dengan dunia dan meminta pertanggungjawaban mereka yang berkuasa," lanjut pihak Twitter.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations