Oleh: Mutriyeni, S.Pd
Pemerhati kebijakkan public

Pada 15 september 2020 Uni Emirat Arab dan Bahrain menandatangani kesepakatan damai untuk menormalisasikan hubungan mereka dengan Israel di gedung putih. Sebelumnya Mesir dan Yordania telah lebih dulu melakukan perjanjian ini.

Negara-negara yang melakukan perjanjian ini berpandangan dengan adanya normalisasi diplomatik menjadi tonggak baru dalam menciptakan perdamaian bagi Palestina Israel melalui solusi dua negara.

Kesepakatan ini menuai kecaman dari negara-negara Arab. Karena tidak sejalan dengan beberapa dekade konsensus Arab. Bahwa hubungan lebih lanjut dengan negara Yahudi tidak boleh dinormalisasi sampai negara itu menandatangani kesepakatan damai yang komprehensip dengan Palestina. Sebagai wujud kekecewaan dan kecaman, Palestina akhirnya mengundurkan diri dari liga Arab. (kompas.com)

Konflik Palestina Israel belum juga menemuka ntitik terang, walaupun negara-negara di dunia telah berupaya menyelesaikannya melalui tangan PBB. Sampai saat ini rakyat Palestina masih mengalami penindasan dan penganiayaan. Israel terus saja mencaplok tanah Palestina dengan brutal, tidak ada solusi kongkrit yang dihasilkan dari resolusi dan kesapakatan yang ditetapkan oleh PBB  selama ini.

Lantas apakah dengan normalisasi diplomatik yang dilakukan beberapa negeri-negeri Muslim, dan mungkin akan disusul oleh negeri Muslim yang lainnya tidak terkecuali Indonesia akan mampu memberikan harapan dalam konflik Palestina Israel. Benarkah solusi dua negara, dengan memberikan kemerdekaan kepada masing-masing negara merupakan solusi yang adil,  terutama bagi rakyat Palestina.

Akar masalah konflik Palestina-Israel

Konflik Palestina-Israel tidak sesederhana yang kita lihat, memberikan kemerdekaan kepada masing-masing pihak tidak akan menyelesaikan konflik. Sebagaimana pandangan orang-orang saat ini. Inti permasalahan Palestina adalah, bahwa negara Israel telah menjajah mereka, merampas  tanah milik mereka. Dan yang pasti Israel telah menyatakan perang dengan umat Islam, karena telah menzolimi kaum Muslim dalam hal ini Palestina. Jadi yang seharusnya dilakukan umat Islam adalah memerangi zionis Yahudi dan mengusir mereka dari tanah Palestina.

Pertanyaannya adalah apakah mampu dunia khususnya negeri-negeri Muslim melakukan itu? Selain hanya kecaman yang keluar dari lisan mereka setiap darah rakyat Palestina tertumpahkan oleh kekejaman Yahudi laknattullah.

Dibalik eksisnya Yahudi saat ini tidak bisa dipungkiri ada dukungan dan campur tangan negara adidaya saat ini. Kalau kita melihat ke belakang, sejarah perampasan tanah Palestina oleh Yahudi tidak terlepas dari campur tangan negara penjajah pada saat itu, yaitu Inggris dan Prancis

Dalam buku Jejak-Jejak Juang Palestina karya Musthafa Abd Rahman dijelaskan, dua peristiwa sejarah yang menjadi fondasi perampokan tanah Palestina itu berkisar pada 1900-an. Pertama, peristiwaPerjanjian Sykes-Picot pada 1916 antara Inggris dan Prancis.

Inggris dan Prancis membagi peninggalan Dinasti Ottoman di wilayah Arab. Pada perjanjian tersebut ditegaskan bahwa Prancis mendapat wilayah jajahan Suriah dan Lebanon, sedangkan Inggris memperoleh wilayah jajahan Irak dan Yordania. Sementara itu, Palestina dijadikan status wilayahnya sebagai wilayah internasional.

Kedua, peristiwa sejarah Deklarasi Balfour pada 1917. Perjanjian ini menjanjikan sebuah negara Yahudi di tanah Palestina pada gerakan zionisme. Di bawah payung legitimasi Perjanjian Sykes-Picot dan Deklarasi Balfour tersebut, warga Yahudi di Eropa mulai bermigrasi ke Palestina pada 1918.

Negara-negara barat yang sangat mendukung pendirian negara israel adalah Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan Rusia. Mereka rela memberikan investasi besar-besaran kepada Israel. Pertanyaannya, mengapa mereka melakukan itu semua terutama amerika? Ini semata untuk menjamin kepentingan mereka di Timur tengah, kepentingan ekonomi dan ideologinya. Sedangkan kepentingan terbesarnya adalah menghalangi tegaknya kembali negara Islam yang disebut Khilafah Islam, yang telah terbukti kekuasaannya.

Sebagaimana firman Allah"

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi danNasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (TQS AlBaqarah: 120)

Sistem pemerintahan Islam mengakhiri krisis Palestina

Solusi dua negara atau memberikan kemerdekaan kepada masing-masing negara tidak akan mengubah keadaan, bahwah Israel telah merampok tanah Palaestina, dan akan terus mencaplok tanah tersebut. Umat Islam harus memahami bahwa Kekuatan militer harus dihilangkan Dengan kekuatan juga, tidak akan bisa hanya mengandalkan Diplomasi antar negara. Oleh karena itu, yang dibutuhkan adalah bantuan militer untuk mengusir tentara Israel dari bumi Palestina. Pemberian obat-obatan dan makanan  sesungguhnya tidaklah mampu menyelesaikan masalah Palestina.

Namun, adakah negara yang bisa mengomando pasukan untuk menyerang israel saat ini?

Negara itu tidak lain adalah daulah Islam (Khilafah Islamiah), yang akan menyatukan kekuatan militer di seluruh negeri-negeri Muslim. Dan pastinya akan melindungi umat dari penjajahan negeri-negeri kafir.

Di dalam Islam tidak ada perjanjian dalam bentuk apapun dengan negeri-negeri kafir yang jelas-jelas memerangi umat Islam. Apa yang dilakukan negeri-negeri Teluk Arab merupakan kemaksiatan dan penghianatan terhadap umat Islam.

Semoga institusi Islam ini akan segera tegak, dan mengakhiri seluruh penderitaan umat Islam saat ini.amiin. 

Wallahua’lam Bisshawab

YOUR REACTION?

Facebook Conversations