Pasukan Keamanan Irak menembak mati lebih dari 30 pengunjuk rasa pada Kamis (28/11/2019) waktu setempat, setelah demonstran menyerbu dan membakar konsulat Iran.
Foto: tempo

Setidaknya 29 orang tewas di kota selatan Nassiriya ketika tentara menembaki para demonstran yang memblokir sebuah jembatan sebelum fajar pada Kamis (28/11/2019) kemudian berkumpul di luar kantor polisi. Sumber medis mengatakan ratusan lainnya terluka.

Empat demonstran lainnya tewas di Ibu Kota Baghdad, di mana pasukan keamanan melepaskan tembakan dengan amunisi langsung dan peluru karet terhadap pengunjuk rasa di dekat jembatan di atas sungai Tigris. Sementara dua demonstran tewas pada siang hari dalam bentrokan di Najaf.

Di Nassiriya, ribuan pelayat turun ke jalan, menentang jam malam untuk memakamkan para korban setelah penembakan massal seperti dikutip dari Reuters, Jumat (29/11/2019). Pertumpahan darah ini adalah salah satu hari yang paling kejam sejak aksi demonstrasi dimulai pada awal Oktober lalu. 

Aksi demonstrasi yang mulanya anti korupsi membengkak menjadi pemberontakan terhadap pemerintah yang dicemooh oleh para demonstran muda sebagai antek-antek Teheran. Di Najaf, sebuah kota tempat ziarah kuno yang berfungsi sebagai tempat kedudukan ulama Syiah yang kuat di Irak, konsulat Iran dirusak menjadi puing-puing yang hangus setelah diserbu semalam. 

BACA JUGA:

Para pengunjuk rasa menuduh pemerintah Irak berbalik melawan rakyat mereka sendiri untuk membela Iran. "Semua polisi anti huru hara di Najaf dan pasukan keamanan mulai menembaki kami seolah-olah kami membakar Irak secara keseluruhan," kata seorang demonstran yang menyaksikan pembakaran konsulat kepada Reuters.

Pengunjuk rasa lain, Ali, menggambarkan serangan terhadap konsulat Iran sebagai tindakan berani dan reaksi dari rakyat Irak. "Kami tidak menginginkan orang-orang Iran," ujarnya. Tapi dia memperkirakan akan lebih banyak aksi kekerasan. "Akan ada aksi balasan dari Iran, aku yakin. Mereka masih di sini dan pasukan keamanan akan terus menembaki kami," lanjutnya.

Sedangkan Kementerian luar negeri Iran sendiri mengutuk serangan itu dan menuntut tanggapan tegas dari pemerintah Irak terhadap para pelaku penyerangan.

Sejauh ini, pihak berwenang tidak menyerah dalam menanggapi kerusuhan, menembak mati ratusan demonstran dengan amunisi langsung dan gas air mata, sementara mengajukan proposal untuk reformasi politik yang para pengunjukrasa anggap sebagai sepele dan "kosmetik."



YOUR REACTION?

Facebook Conversations