| 70 Views
Genosida Dengan Cara Yang Makin Mengerikan Masih Dialami Gaza
Oleh : Kiki Puspita
Zionis yahudi tak henti-hentinya melancarkan serangan terhadap warga gaza. Derita warga gaza ditengah krisis kelaparan, sistem kesehatan yang hancur, dan bahkan sekarang warga gaza tak punya lagi tempat yang aman untuk berlindung.
Pada Kamis (10/7/2025) kemarin, warga Gaza yang sedang mengantre agar mendapatkan bantuan gizi dan layanan kesehatan di pos medis di Deir al-Balah dilaporkan tewas dalam serangan Israel. (tirto.id)
Menurut Kementrian Kesehatan Palestina, serangan dan tembakan Israel menewaskan sedikitnya 67 orang lainya di jalur Gaza selama 24 jam terakhir. Termasuk, 15 orang dalam lima serangan terpisah di kota Gaza.
Suara pembelaan terhadap Gaza terus datang baik dari kalangan muslim maupun non muslim. Albanese, seorang pengacara dan akademisi asal Italia, mendesak negara-negara di Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk memberlakukan embargo senjata dan memutuskan hubungan perdagangan dengan Israel, seraya menuduh sekutu AS tersebut melancarkan 'kampanye genosida' di Gaza. Albanese juga menyampaikan pada 30 juni lalu, bahwa ada 60 perusahaan, termasuk raksasa teknologi AS seperti Google, Amazon, dan Microsoft terlibat dalam apa yang ia sebut sebagai '' transfortasi ekonomi pendudukan Israel menjadi ekonomi genosida''.
Albanese juga menyebut bahwa zionis telah menjadikan Gaza sebagai medan uji coba senjata baru mereka. Bukan berhenti dan menyadari akan kekejaman dan genosida yang mereka lakukan, Amerika Serikat mala menjatuhkan sanksi kepada Pelapor Khusus PBB untuk hak asasi manusia di wilayah pendudukan Palestina, Francesca Albanese. dilansir dari Reuters, Jum'at (11/7/2025).
Dari kasus ini tentu membuktikan kepada kita semua, bahwa PBB di mata zionis dan negara adidaya tidak memiliki posisi kuat dan strategis. PBB hanya memberikan kecaman dan hanya berkoar-koar agar gencatan senjata dilakukan, namun faktanya hingga saat ini nasib warga Gaza tak bisa diselamatkan. Para pemimpin negeri muslim juga tak melakukan tindakan apa-apa untuk membela saudara seiman mereka. Solusi dua negara yang dianggap bisa menyelesaikan konflik justru sama halnya dengan menormalisasi kekejaman yang zionis lakukan.
Saatnya kita sadari bersama bahwa pembebasan Palestina secara hakiki hanyalah jihad dan Khilafah. Palestina adalah milik kaum muslim selamanya, tidak untuk dibagi, apalagi dihancurkan, oleh tangan-tangan kotor penjajah dan menjadi rebutan negara adidaya.
Untuk diketahui, pembebasan Palestina dimulai pada masa Khalifah Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu pada 637 Masehi atau 15 Hijriah. Pada saat itu, kunci Baitul maqdis diserahkan oleh Patriark Sophronius, seorang pemimpin agama Kristen Ortodoks di Yerusalem, kepada Khalifah Umar bin Khaththab Radhiyallahu‘ anhu. Penduduk Yerusalem sepakat menyerahkan kota secara damai kepada umat Islam.
Semua ini harus benar-benar dipahami oleh umat Islam dan berusaha mewujudkan negara bagi kaum muslim yang sesungguhnya, yaitu berdirinya negara Khilafah Islamiah yang mengikuti metode kenabian. Ketika kaum muslim bergerak bersama dengan visi yang sama maka akan membangun kesadaran dan kekuatan umat. Terbentuknya kesadaran umum pada mayoritas umat akan mendorong umat agar terus fokus berjuang di jalan dakwah sesuai dengan thariqah (metode) Rasulullah.
Hanya thariqah dakwah Rasulullah yang akan mengantarkan kepada kemenangan Islam secara hakiki. Thariqah dakwah untuk menegakkan Khilafah mencakup tiga tahapan dakwah yang dipraktikkan oleh Rasulullah ﷺ di Makkah hingga berhasil menegakkan Daulah Islam di Madinah.
Pertama, tahap pembinaan dan kristalisasi tsaqafah Islam. Pembinaan secara intensif harus berjalan dengan menjadikan Islam sebagai ideologinya, serta ilmu dan tsaqafah yang didapatkan dalam pembinaan diamalkan secara langsung dalam realitas kehidupan.
Kedua, tahap interaksi (tafa’ul) dengan masyarakat hingga Islam menjadi jalan hidup bagi setiap muslim. Pada tahapan ini mulai terjadi pergolakan antara umat dengan orang-orang yang menghalangi diterapkannya Islam, seperti penjajah Barat, penguasa dan orang-orang zalim, juga para pengikut ideologi sekuler kapitalisme serta pemikiran turunannya. Berinteraksi dengan masyarakat dilakukan untuk memberikan pemahaman dan kesadaran mereka akan pentingnya ideologi Islam dan sistem Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Ketiga, tahap menerima kekuasaan secara menyeluruh melalui dukungan umat, yakni terbentuknya negara Khilafah yang terdorong dari keinginan umat Islam yang muncul dari kesadaran dan pemahaman Islam secara kaffah (Disarikan dari kitab At Takattul al–Hizbiy, hlm. 51 yang ditulis oleh Syekh Taqiyuddin an-Nabhani).
Oleh karena itu, segala upaya yang dilakukan untuk menjauhi thariqah dakwah Rasulullah ﷺ tidak akan mengantarkan pada kemenangan hakiki, baik melalui people power ataupun jalur pemerintahan demokrasi/ parlemen. Orang-orang yang sudah memiliki kesadaran dan pemahaman Islam secara utuh, yaitu para pengemban dakwah, juga harus mewaspadai bahaya yang mengancam keberlangsungan dakwah, baik bahaya kelas (merasa dirinya lebih baik dari umat) maupun bahaya ideologi, seperti sekularisme, kapitalisme, demokrasi, liberalisme, pluralisme, hedonisme, feminisme, dan produk pemikirant asing yang tidak berasal dari Islam. Kedua bahaya ini harus diwaspadai karena akan memalingkan umat dari thariqah dakwah Rasulullah ﷺ. Mereka harus meyakini bahwa thariqah inilah yang akan mengarahkan kepada kemenangan umat Islam, termasuk mengusir penjajah Yahudi Zionis dari bumi Palestina.
Waaulohua'lam bissawab.